Manajemen Keuangan Perbankan Syariah (Rasio Keuangan)

BAB I
PENDAHULUAN

Bagi setiap bank, pemasokan kredit kepada para nasabah merupakan kegiatan utama. Dari kegiatan tersebut bank memperoleh penerimaan. Dari hasil penerimaan paling pokok inilah bank membiayai pengeluaran-pengeluaran biaya operasionalnya.
Dalam menentukan kebijakan-kebijakan perkreditan, bank perlu memperhatikan lingkungan bisnis perbankan, keadaan persaingan dan faktor-faktor yang melekat pada bank bersangkutan. Karakteristik kredit dapat dihubungkan dengan jenis atau macam kredit yang dasar pembedaannya juga bermacam-macam.
Dengan memahami karakteristik dan faktor-faktor tersebut, bank dapat menentukan kebijakan-kebijakan, seperti: jangka waktu kredit, macam jaminan, cara pengembalian pokok pinjaman, tingginya suku bunga yang dikenakan dsb.
Tolak ukur sekian C sangat terkenal dalam analisis kredit, ada 6C yaitu: character, capacity, capital, collateral, coverage, dan conditions.
Khususnya untuk kredit produsen, kini banyak bank menggunakan analisis rasio keuangan. Berdasarkan data laporan keuangan atau laporan keuangan proforma dari pemohon kredit, bank bisa menghitung rasio-rasio keuangan pemohon kredit. Dalam makalah ini, pemakalah ingin memberikan penjelasan tentang rasio keuangan perbankan dan harapan pemakalah agar para pembaca dapat memahami tentang apa itu rasio keuangan perbankan, jenis-jenis rasio keuangan perbankan dsb.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Menurut James C. Van Horne, rasio keuangan merupakan indeks yang menghubungkan dua angka akuntansi dan diperoleh dengan membagi satu angka dengan angka lainnya. Perbandingan dapat dilakukan antara satu komponen dengan komponen dalam satu laporan keuangan atau antarkomponen yang ada di antara laporan keuangan. Kemudian angka yang diperbandingkan dapat berupa angka-angka dalam satu periode maupun beberapa periode. Jadi, Rasio keuangan adalah angka yang menunjukkan perbandingan antara nilai keuangan yang lain untuk perusahaan yang sama.
Hasil dari rasio keuangan inilah yang digunakan untuk menilai kinerja manajemen dalam suatu periode, apakah mencapai target seperti yang telah ditetapkan atau sebaliknya. Disamping itu, juga untuk menilai kemampuan manajemen dalam memberdayakan sumber daya perusahaan (asset) secara efektif dan efisien. Hasil analisis terhadap rasio-rasio keuangan tersebut banyak manfaatnya, baik bagi pihak pimpinan perusahaan maupun bagi pihak di luar perusahaan yang mempunyai kepentingan terhadap perusahaan bersangkutan. Salah satu diantara pihak luar perusahaan yang banyak mempunyai kepentingan terhadap perusahaan yaitu bank. Untuk mendapatkan gambaran mengenai kemampuan debitur dalam memenuhi kewajiban-kewajiban membayar yang timbul dari pemanfaatan kredit yang diterimanya dari bank, bank bisa mengambil cara membuat analisis rasio keuangan perusahaan debiturnya.
Dalam praktiknya, analisis rasio keuangan suatu perusahaan dapat digolongkan menjadi:
1. Rasio neraca, yaitu membandingkan angka-angka yang hanya bersumber dari neraca.
2. Rasio laporan laba rugi, yaitu membandingkan angka-angka yang hanya bersumber dari laporan laba rugi.
3. Rasio antar laporan, yaitu membandingkan angka-angka dari dua sumber (data campuran) baik yang ada di neraca maupun dan di laporan laba rugi.
B. Jenis-jenis Rasio Keuangan
Jenis-jenis rasio keuangan yang dapat digunakan untuk menilai kinerja manajemen beragam. Penggunaan masing-masing rasio tergantung kebutuhan perusahaan, artinya terkadang tidak semua rasio digunakan. Hanya saja jika hendak melihat kondisi dan posisi perusahaan secara lengkap, maka sebaiknya seluruh rasio digunakan. Berikut ini jenis-jenis rasio keuangan, yaitu:
1. Rasio Likuiditas
Fred Weston, menyebutkan bahwa rasio likuiditas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban (utang) jangka pendek. Artinya apabila perusahaan ditagih, maka akan mampu untuk membayar utang tersebut terutama yang sudah jatuh tempo.
Jenis-jenis rasio likuiditas yang dapat digunakan terdiri dari:
a. Rasio Lancar (Current Ratio) merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan.
b. Rasio Sangat Lancar (Quick Ratio) merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi atau membayar kewajiban dengan aktiva lancar tanpa memperhitungkan nilai sediaan (inventory). Artinya, nilai sediaan kita abaikan dengan cara dikurangi dari nilai total aktiva lancar. Hal ini dilakukan karena sediaan dianggap memerlukan waktu relatif lebih lama untuk diuangkan, apabila perusahaan memerlukan dana cepat untuk membayar kewajibannya dibandingkan aktiva lancar lainnya.
c. Rasio Kas (Cash Ratio) merupakan alat yang digunakan untuk mengukur seberapa besar uang kas yang tersedia untuk membayar utang. Ketersediaan uang kaas dapat ditunjukkan dari tersedianya dana kas atau yang setara dengan kas seperti rekening giro atau tabungan yang ada di bank (dapat ditarik setiap saat menggunakan kartu ATM).
d. Rasio Perputaran Kas (Cash Turn Over) untuk mengukur tingkat kecukupan modal kerja perusahaan yang dibutuhkan untuk membayar tagihan dan membiayai penjualan.
e. Inventory to Net Working Capital merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur atau membandingkan antara jumlah sediaan yang ada dengan modal kerja perusahaan. Modal kerja tersebut terdiri dari pengurangan aktiva lancar dengan utang lancar.
2. Rasio Solvabilitas
Rasio Solvabilitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai dengan utang. Artinya berapa besar beban utang yang ditanggung perusahaan dibandingkan dengan aktivanya.
Adapun jenis-jenis rasio solvabilitas antara lain:
1. Debt to Assets Ratio (Debt Ratio), merupakan rasio utang yang digunakan untuk mengukur seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh utang atau seberapa besar utang perusahaan berpengaruh terhadap pengelolaan aktiva.
2. Debt to Equity Ratio, merupakan rasio yang digunakan untuk menilai utang dengan ekuitas. Rasio ini berguna untuk mengetahui jumlah dana yang disediakan peminjam (kreditor) dengan pemilik perusahaan. Dengan kata lain rasio ini untuk mengetahui setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan untuk jaminan utang.
3. Long Term Debt to Equity Ratio, merupakan rasio antara utang jangka panjang dengan modal sendiri. Tujuannya adalah untuk mengukur berapa bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan utang jangka panjang dengan cara membandingkan antara utang jangka panjang dengan modal sendiri yang disediakan oleh perusahaan.
4. Times Interest Earned, merupakan rasio untuk mengetahui kemampuan perusahaan untuk membayar biaya bunga.
5. Fixed Change Coverage, merupakan rasio yang menyerupai rasio Times Interest Earned. Hanya saja bedanya dalam rasio ini dilakukan apabila perusahaan memperoleh utang jangka panjang atau menyewa aktiva berdasarkan kontrak sewa (lease contract).
3. Rasio Aktivitas
Rasio Aktivitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam menggunakan aktiva yang dimilikinya. Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi pemanfaatan sumber daya perusahaan dan menilai kemampuan perusahaan dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari.
Jenis-jenis rasio aktivitas, yaitu:
1. Perputaran Piutang (Receivable Turnover), merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur berapa lama penagihan piutang selama satu periode. Makin tinggi rasio menunjukkan bahwa modal kerja yang ditanamkan dalam piutang makin rendah dan tentunya kondisi ini bagi perusahaan makin baik. Sebaliknya jika rasio makin rendah, maka ada over investment dalam piutang.
2. Hari Rata-rata Penagihan Piutang (Days of Receivable). Bagi perbankan yang membeikan kredit, perlu juga menghitung hari rata-rata penagihan piutang. Hasil perhitungan ini menunjukkan jumlah hari piutang tersebut rata-rata tidak dapat ditagih dan rasio ini disebut juga days sales uncollected.
3. Perputaran Sediaan (Inventory Turnover), merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur berapa kali dana yang ditanam dalam sediaan (inventory) ini berputar dalam suatu periode.
4. Perputaran Modal Kerja (Working Capital Turnover), merupakan salah satu rasio untuk mengukur atau menilai keefektifan modal kerja perusahaan selama periode tertentu. Artinya seberapa banyak modal kerja berputar selama suatu periode
5. Perputaran Aktiva Tetap (Fixed Assets Turnover), merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur berapa kali dana yang ditanamkan dalam aktiva tetap berputar dalam satu periode.
6. Perputaran Aktiva (Assets Turnover), merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur perputaran semua aktiva yang dimiliki perusahaan serta mengukur berapa jumlah penjualan yang diperoleh dari tiap rupiah aktiva.

4. Rasio Profitabilitas
Rasio Profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan. Hal ini ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi.
Jenis-jenis rasio profitabilitas sebagai berikut:
1. Profit Margin (Profit Margin on Sales) atau Rasio Profit Margin atau margin laba atas penjualan, merupakan salah satu rasio yang digunakan untuk mengukur margin laba atas penjualan. Untuk mengukur rasio ini dengan cara membanding antara laba bersih setelah pajak dengan penjualan bersih.
2. Return on Investment (ROI) atau Return on Total Assets, merupakan rasio yang menunjukkan hasil (return) atas jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan. ROI juga merupakan suatu ukuran tentang efektivitas manajemen dalam mengelola investasinya.
3. Return on Equity (ROE), merupakan rasio untuk mengukur laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri. Makin tinggi rasio ini, berarti makin baik. Artinya, posisi pemilik perusahaan makin kuat begitu pun sebaliknya.
4. Laba per lembar saham atau rasio nilai buku, merupakan rasio untuk mengukur keberhasilan manajemen dalam mencapai keuntungan bagi pemegang saham. Rasio yang rendah berarti manajemen belum berhasil untuk memuaskan pemegang saham, sebaliknya dengan rasio yang tinggi maka kesejahteraan pemegang saham meningkat dengan pengertian lain bahwa tingkat pengembalian akan tinggi

5. Rasio Pertumbuhan
Rasio Pertumbuhan merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan mempertahankan posisi ekonominya di tengah perekonomian dan sektor usahanya. Dalam rasio yang dianalisis adalah pertumbuhan penjualan, pertumbuhan laba bersih, pertumbuhan pendapatan per saham dan pertumbuhan dividen per saham.
6. Rasio Penilaian
Rasio penilaian yaitu rasio yang memberikan ukuran kemampuan manajemen menciptakan nilai pasar usahanya diatas biaya investasi.
C. Contoh Kasus
Dalam menghitung rasio keuangan dapat digunakan rumus-rumus yang sesuai dengan jenis rasionya. Rasio-rasio ini ada yang memiliki antara laporan keuangan atau hanya dalam satu laporan keuangan.
Untuk memberikan contoh aplikasi rasio di atas, berikut ini diberikan contoh Neraca dan Laporan Laba Rugi PT ROY AKASE. Tbk.
PT ROY AKASE, Tbk.
NERACA
Per 31 Desember 2007 dan 2008
(dalam jutaan)

Periode
Pos-pos dalam Neraca Tahun 2007 Tahun 2008
Aktiva Lancar
Kas 1.150 1.000
Giro 125 160
Surat-surat Berharga 240 190
Piutang 1.350 1.250
Sediaan 1.135 1.500
Total Aktiva Lancar 4.000 4.100
Aktiva Tetap
Tanah 1.000 2.000
Mesin 1.500 2.500
Kendaraan 1.500 1.000
Akumulasi Penyusutan (700) (850)
Total Aktiva Tetap 3.300 4.650
Aktiva lainnya
Total Aktiva Lainnya 1.700 2.250
Total Aktiva 9.000 11.000

Utang Lancar
Utang Bank 400 250
Utang Dagang 2.150 2.200
Utang wesel 100 20
Utang lainnya 50 100
Total Utang Lancar 2.700 2.600
Utang Jangka Panjang
Utang Bank 3 tahun 3.750 3.000
Utang Obligasi 2.000 1.400
Utang Hipotek 250 1.100
Ttl. Utang Jangka Panjang 4.000 3.400
Ekuitas
Modal Setor 2.000 3.500
Cadangan Laba 300 1.500
Total Ekuitas 2.300 5.000
Total Pasiva 9.000 11.000

PT ROY AKASE, Tbk.
Laporan Laba Rugi
Per 31 Desember 2007 dan 2008
(dalam ribuan)

Komponen Laporan Laba Rugi Tahun 2007 Tahun 2008
Total Penjualan 8.500 10.400
Harga Pokok Penjualan 5.250 6.000
Laba Kotor 3.250 4.400

Biaya Operasi
Biaya Umum & Administrasi 500 500
Biaya Penjualan 1.000 1.100
Biaya Lainnya 100 100
Total Biaya Operasi 1.600 1.700
Laba Kotor Operasi 1.650 2.700

Penyusutan 700 850

Pendapatan Bersih Operasi 950 1.850
Pendapatan Lainnya 1.650 1.750
EBIT 2.600 3.600

Biaya Bunga
Bunga Bank 500 400
Bunga Obligasi 200 100
Total Biaya Bunga 700 500

EBT 1.900 3.100
Pajak 20% 380 620
EAIT 1.520 2.480

a. Rasio Likuiditas
 Rasio Lancar (Current Ratio)
Rasio Lancar = Aktifa Lancar
Utang Lancar
Contoh:
Komponen Laporan Keuangan 2007 2008
Total Aktiva Lancar 4.000 4.100
Total Utang Lancar 2.700 2.600

Untuk tahun 2007:
Current Ratio (R) = Rp 4.000 / Rp 2.700 = 1,48 kali (dibulatkan 1,5 kali)
Artinya, jumlah aktiva lancar sebanyak 1,5 kali utang lancar, atau setiap 1 rupiah utang lancar dijamin oleh 1,5 rupiah harta lancar atau 1,5 : 1 antara aktiva lancar dengan utang lancar.
Untuk tahun 2008:
Current Ratio (R) = Rp 4.100 / Rp 2.600 = 1,57 kali (dibulatkan 1,6 kali)
Artinya, jumlah aktiva lancar sebanyak 1,6 kali utang lancar, atau setiap 1 rupiah utang lancar dijamin oleh 1,6 rupiah harta lancar atau 1,6 : 1 antara aktiva lancar dengan utang lancar.
Jika rata-rata industri untuk current rasio adalah 2 kali, maka keadaan perusahaan untuk tahun 2007, dalam kondisi kurang baik mengingat rasionya di bawah rata-rata industri. Namun untuk tahun 2008 sekalipun kondisinya kurang baik dari perusahaan lain, namun ada peningkatan jika dibandingkan dengan rasio tahun 2007.
b. Rasio Solvabilitas (Leverage Ratio)
 Debt to Assets Ratio (Debt Ratio)
Rumusan untuk mencari debt ratio dapat digunakan sebagai berikut:
Debt to Assets Ratio (Debt Ratio) = Total Debt
Total Assets
Contoh:
Komponen Laporan keuangan 2007 2008
Total Aktiva 9.000 11.000
Total Utang 6.700 6.000

Untuk tahun 2007:
Debt to Assets Ratio = Rp 6.700 / Rp 9.000 = 0,74%
Rasio ini menunjukkan bahwa 74% pendanaan perusahaan dibiayai dengan utang untuk tahun 2006. Artinya bahwa setiap 100 rupiah pendanaan perusahaan, maka 74 rupiah dibiayai dengan utang dan 26 rupiah disediakan oleh pemegang saham.
Untuk tahun 2008:
Debt to Assets Ratio = Rp 6.000 / Rp 11.000 = 0,54%
Rasio ini menunjukkan bahwa 54% pendanaan perusahaan dibiayai dengan utang untuk tahun 2007. Artinya bahwa setiap 100 rupiah pendanaan perusahaan, maka 54 rupiah dibiayai dengan utang dan 46 rupiah disediakan oleh pemegang saham.
Jika rata-rata industri 35%, maka Debt to Assets Ratio perusahaan diatas rata-rata industri sehingga mempermudah perusahaan untuk memperoleh pinjaman.
c. Rasio Aktivitas
 Perputaran Piutang (Receivable Turnover)
Rumusan untuk mencari Receivable Turnover adalah sebagai berikut:
Receivable Turnover = Penjualan Kredit
Rata-rata Piutang
Atau Receivable Turnover = Penjualan Kredit
Piutang

Contoh:
Komponen Laporan Keuangan 2007 2008
Penjualan 8.500 10.400
Piutang 1.350 1.250
Awal Tahun
Akhir Tahun

Untuk tahun 2007 :
Receivable Turnover = Rp 8.500 / Rp 1.350 = 6,29 kali (dibulatkan 6,3 kali)
Untuk tahun 2008 :
Receivable Turnover = Rp 10.400 / Rp 1.250 = 8,32 kali (dibulatkan 8,4 kali). Artinya, perputaran piutang untuk tahun 2007 adalah 6,3 kali dibandingkan penjualan dan perputaran piutang untuk tahun 2008 adalah 8,4 kali dibandingkan penjualan.
Jika rata-rata industri untuk perputaran piutang adalah 10 kali, maka untuk tahun 2007 dan 2008 dapat dikatakan penagihan piutang yang dilakukan manajemen dapat dianggap tidak berhasil, karena dibawah rata-rata industri. Namun untuk tahun 2008 ada peningkatan dibandingkan dengan tahun 2007.
d. Rasio Profitabilitas
 Profit Margin on Sales
Rumus untuk mencari Profit Margin dapat digunakan dengan dua cara, yaitu:
1) Untuk margin laba kotor dengan rumus:
Profit Margin = Penjualan Bersih – Harga Pokok Penjualan
Sales
Margin laba kotor menunjukkan laba yang relatif terhadap perusahaan, dengan cara penjualan bersih dikurangi harga pokok penjualan. Rasio ini merupakan cara untuk penetapan harga pokok penjualan

Contoh:
Komponen Laporan Keuangan 2007 2008
Penjualan (sales) 8.500 10.400
Harga pokok penjualan 5.250 6.000
Untuk tahun 2007 :
Profit Margin = Rp 8.500 – Rp 5.250 = 0,38 (38%)
Rp 8.500
Untuk tahun 2008 :
Profit Margin = Rp 10.400 – Rp 6.000 = 0,73 (73%)
Rp 6.000
Jika rata-rata industri untuk profit margin adalah 30%, berarti margin laba perusahaan tahun 2007 dan tahun 2008 baik, karena berbeda di atas rata-rata industri.
2) Untuk margin laba bersih dengan rumus:
Net Profit Margin = Earning After Intrset and Tax (EAIT)
Sales
Margin laba bersih merupakan ukuran keuntungan dengan membandingkan antara laba setelah bunga dan pajak dibandingkan dengan penjualan. Rasio ini menunjukkan pendapatan bersih perusahaan atas penjualan.
Contoh:
Komponen Laporan Keuangan 2007 2008
Penjualan (sales) 8.500 10.400
Earning After Intrset and Tax (EAIT) 5.250 6.000

Untuk tahun 2007 :
Net Profit Margin = Rp 1.520 = 0,17 (17%)
Rp 8.500
Untuk tahun 2008 :
Profit Margin = Rp 2.480 = 0,23 (23%)
Rp 10.400
Jika rata-rata industri untuk net profit margin adalah 20%, berarti margin laba perusahaan tahun 2007 sebesar 17% kurang baik, karena berada dibawah rata-rata industri. Namun, untuk tahun 2008 dengan margin laba sebesar 23% baik, karena masih diatas rata-rata industri.

BAB III
KESIMPULAN

Rasio keuangan adalah angka yang menunjukkan perbandingan antara nilai keuangan yang lain untuk perusahaan yang sama.
Dalam praktiknya, analisis rasio keuangan suatu perusahaan dapat digolongkan menjadi:
1. Rasio neraca, yaitu membandingkan angka-angka yang hanya bersumber dari neraca.
2. Rasio laporan laba rugi, yaitu membandingkan angka-angka yang hanya bersumber dari laporan laba rugi.
3. Rasio antar laporan, yaitu membandingkan angka-angka dari dua sumber (data campuran) baik yang ada di neraca maupun dan di laporan laba rugi.
Jenis-jenis Rasio Keuangan
a. Rasio Likuiditas
b. Rasio Solvabilitas
c. Rasio Aktivitas
d. Rasio Profitabilitas
e. Rasio Pertumbuhan
f. Rasio Penilaian

DAFTAR PUSTAKA

Kasmir. 2010. Pengantar Manajemen Keuangan. Kencana Prenada Media Group, Jakarta.
Reksoprajitno, Soedijono. 1993. Pengantar Manajemen Bank Umum.Gunadarma, Jakarta.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: