Manajemen Keuangan Perbankan Syariah (Rasio Keuangan)

BAB I
PENDAHULUAN

Bagi setiap bank, pemasokan kredit kepada para nasabah merupakan kegiatan utama. Dari kegiatan tersebut bank memperoleh penerimaan. Dari hasil penerimaan paling pokok inilah bank membiayai pengeluaran-pengeluaran biaya operasionalnya.
Dalam menentukan kebijakan-kebijakan perkreditan, bank perlu memperhatikan lingkungan bisnis perbankan, keadaan persaingan dan faktor-faktor yang melekat pada bank bersangkutan. Karakteristik kredit dapat dihubungkan dengan jenis atau macam kredit yang dasar pembedaannya juga bermacam-macam.
Dengan memahami karakteristik dan faktor-faktor tersebut, bank dapat menentukan kebijakan-kebijakan, seperti: jangka waktu kredit, macam jaminan, cara pengembalian pokok pinjaman, tingginya suku bunga yang dikenakan dsb.
Tolak ukur sekian C sangat terkenal dalam analisis kredit, ada 6C yaitu: character, capacity, capital, collateral, coverage, dan conditions.
Khususnya untuk kredit produsen, kini banyak bank menggunakan analisis rasio keuangan. Berdasarkan data laporan keuangan atau laporan keuangan proforma dari pemohon kredit, bank bisa menghitung rasio-rasio keuangan pemohon kredit. Dalam makalah ini, pemakalah ingin memberikan penjelasan tentang rasio keuangan perbankan dan harapan pemakalah agar para pembaca dapat memahami tentang apa itu rasio keuangan perbankan, jenis-jenis rasio keuangan perbankan dsb.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Menurut James C. Van Horne, rasio keuangan merupakan indeks yang menghubungkan dua angka akuntansi dan diperoleh dengan membagi satu angka dengan angka lainnya. Perbandingan dapat dilakukan antara satu komponen dengan komponen dalam satu laporan keuangan atau antarkomponen yang ada di antara laporan keuangan. Kemudian angka yang diperbandingkan dapat berupa angka-angka dalam satu periode maupun beberapa periode. Jadi, Rasio keuangan adalah angka yang menunjukkan perbandingan antara nilai keuangan yang lain untuk perusahaan yang sama.
Hasil dari rasio keuangan inilah yang digunakan untuk menilai kinerja manajemen dalam suatu periode, apakah mencapai target seperti yang telah ditetapkan atau sebaliknya. Disamping itu, juga untuk menilai kemampuan manajemen dalam memberdayakan sumber daya perusahaan (asset) secara efektif dan efisien. Hasil analisis terhadap rasio-rasio keuangan tersebut banyak manfaatnya, baik bagi pihak pimpinan perusahaan maupun bagi pihak di luar perusahaan yang mempunyai kepentingan terhadap perusahaan bersangkutan. Salah satu diantara pihak luar perusahaan yang banyak mempunyai kepentingan terhadap perusahaan yaitu bank. Untuk mendapatkan gambaran mengenai kemampuan debitur dalam memenuhi kewajiban-kewajiban membayar yang timbul dari pemanfaatan kredit yang diterimanya dari bank, bank bisa mengambil cara membuat analisis rasio keuangan perusahaan debiturnya.
Dalam praktiknya, analisis rasio keuangan suatu perusahaan dapat digolongkan menjadi:
1. Rasio neraca, yaitu membandingkan angka-angka yang hanya bersumber dari neraca.
2. Rasio laporan laba rugi, yaitu membandingkan angka-angka yang hanya bersumber dari laporan laba rugi.
3. Rasio antar laporan, yaitu membandingkan angka-angka dari dua sumber (data campuran) baik yang ada di neraca maupun dan di laporan laba rugi.
B. Jenis-jenis Rasio Keuangan
Jenis-jenis rasio keuangan yang dapat digunakan untuk menilai kinerja manajemen beragam. Penggunaan masing-masing rasio tergantung kebutuhan perusahaan, artinya terkadang tidak semua rasio digunakan. Hanya saja jika hendak melihat kondisi dan posisi perusahaan secara lengkap, maka sebaiknya seluruh rasio digunakan. Berikut ini jenis-jenis rasio keuangan, yaitu:
1. Rasio Likuiditas
Fred Weston, menyebutkan bahwa rasio likuiditas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban (utang) jangka pendek. Artinya apabila perusahaan ditagih, maka akan mampu untuk membayar utang tersebut terutama yang sudah jatuh tempo.
Jenis-jenis rasio likuiditas yang dapat digunakan terdiri dari:
a. Rasio Lancar (Current Ratio) merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan.
b. Rasio Sangat Lancar (Quick Ratio) merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi atau membayar kewajiban dengan aktiva lancar tanpa memperhitungkan nilai sediaan (inventory). Artinya, nilai sediaan kita abaikan dengan cara dikurangi dari nilai total aktiva lancar. Hal ini dilakukan karena sediaan dianggap memerlukan waktu relatif lebih lama untuk diuangkan, apabila perusahaan memerlukan dana cepat untuk membayar kewajibannya dibandingkan aktiva lancar lainnya.
c. Rasio Kas (Cash Ratio) merupakan alat yang digunakan untuk mengukur seberapa besar uang kas yang tersedia untuk membayar utang. Ketersediaan uang kaas dapat ditunjukkan dari tersedianya dana kas atau yang setara dengan kas seperti rekening giro atau tabungan yang ada di bank (dapat ditarik setiap saat menggunakan kartu ATM).
d. Rasio Perputaran Kas (Cash Turn Over) untuk mengukur tingkat kecukupan modal kerja perusahaan yang dibutuhkan untuk membayar tagihan dan membiayai penjualan.
e. Inventory to Net Working Capital merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur atau membandingkan antara jumlah sediaan yang ada dengan modal kerja perusahaan. Modal kerja tersebut terdiri dari pengurangan aktiva lancar dengan utang lancar.
2. Rasio Solvabilitas
Rasio Solvabilitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai dengan utang. Artinya berapa besar beban utang yang ditanggung perusahaan dibandingkan dengan aktivanya.
Adapun jenis-jenis rasio solvabilitas antara lain:
1. Debt to Assets Ratio (Debt Ratio), merupakan rasio utang yang digunakan untuk mengukur seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh utang atau seberapa besar utang perusahaan berpengaruh terhadap pengelolaan aktiva.
2. Debt to Equity Ratio, merupakan rasio yang digunakan untuk menilai utang dengan ekuitas. Rasio ini berguna untuk mengetahui jumlah dana yang disediakan peminjam (kreditor) dengan pemilik perusahaan. Dengan kata lain rasio ini untuk mengetahui setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan untuk jaminan utang.
3. Long Term Debt to Equity Ratio, merupakan rasio antara utang jangka panjang dengan modal sendiri. Tujuannya adalah untuk mengukur berapa bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan utang jangka panjang dengan cara membandingkan antara utang jangka panjang dengan modal sendiri yang disediakan oleh perusahaan.
4. Times Interest Earned, merupakan rasio untuk mengetahui kemampuan perusahaan untuk membayar biaya bunga.
5. Fixed Change Coverage, merupakan rasio yang menyerupai rasio Times Interest Earned. Hanya saja bedanya dalam rasio ini dilakukan apabila perusahaan memperoleh utang jangka panjang atau menyewa aktiva berdasarkan kontrak sewa (lease contract).
3. Rasio Aktivitas
Rasio Aktivitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam menggunakan aktiva yang dimilikinya. Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi pemanfaatan sumber daya perusahaan dan menilai kemampuan perusahaan dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari.
Jenis-jenis rasio aktivitas, yaitu:
1. Perputaran Piutang (Receivable Turnover), merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur berapa lama penagihan piutang selama satu periode. Makin tinggi rasio menunjukkan bahwa modal kerja yang ditanamkan dalam piutang makin rendah dan tentunya kondisi ini bagi perusahaan makin baik. Sebaliknya jika rasio makin rendah, maka ada over investment dalam piutang.
2. Hari Rata-rata Penagihan Piutang (Days of Receivable). Bagi perbankan yang membeikan kredit, perlu juga menghitung hari rata-rata penagihan piutang. Hasil perhitungan ini menunjukkan jumlah hari piutang tersebut rata-rata tidak dapat ditagih dan rasio ini disebut juga days sales uncollected.
3. Perputaran Sediaan (Inventory Turnover), merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur berapa kali dana yang ditanam dalam sediaan (inventory) ini berputar dalam suatu periode.
4. Perputaran Modal Kerja (Working Capital Turnover), merupakan salah satu rasio untuk mengukur atau menilai keefektifan modal kerja perusahaan selama periode tertentu. Artinya seberapa banyak modal kerja berputar selama suatu periode
5. Perputaran Aktiva Tetap (Fixed Assets Turnover), merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur berapa kali dana yang ditanamkan dalam aktiva tetap berputar dalam satu periode.
6. Perputaran Aktiva (Assets Turnover), merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur perputaran semua aktiva yang dimiliki perusahaan serta mengukur berapa jumlah penjualan yang diperoleh dari tiap rupiah aktiva.

4. Rasio Profitabilitas
Rasio Profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan. Hal ini ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi.
Jenis-jenis rasio profitabilitas sebagai berikut:
1. Profit Margin (Profit Margin on Sales) atau Rasio Profit Margin atau margin laba atas penjualan, merupakan salah satu rasio yang digunakan untuk mengukur margin laba atas penjualan. Untuk mengukur rasio ini dengan cara membanding antara laba bersih setelah pajak dengan penjualan bersih.
2. Return on Investment (ROI) atau Return on Total Assets, merupakan rasio yang menunjukkan hasil (return) atas jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan. ROI juga merupakan suatu ukuran tentang efektivitas manajemen dalam mengelola investasinya.
3. Return on Equity (ROE), merupakan rasio untuk mengukur laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri. Makin tinggi rasio ini, berarti makin baik. Artinya, posisi pemilik perusahaan makin kuat begitu pun sebaliknya.
4. Laba per lembar saham atau rasio nilai buku, merupakan rasio untuk mengukur keberhasilan manajemen dalam mencapai keuntungan bagi pemegang saham. Rasio yang rendah berarti manajemen belum berhasil untuk memuaskan pemegang saham, sebaliknya dengan rasio yang tinggi maka kesejahteraan pemegang saham meningkat dengan pengertian lain bahwa tingkat pengembalian akan tinggi

5. Rasio Pertumbuhan
Rasio Pertumbuhan merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan mempertahankan posisi ekonominya di tengah perekonomian dan sektor usahanya. Dalam rasio yang dianalisis adalah pertumbuhan penjualan, pertumbuhan laba bersih, pertumbuhan pendapatan per saham dan pertumbuhan dividen per saham.
6. Rasio Penilaian
Rasio penilaian yaitu rasio yang memberikan ukuran kemampuan manajemen menciptakan nilai pasar usahanya diatas biaya investasi.
C. Contoh Kasus
Dalam menghitung rasio keuangan dapat digunakan rumus-rumus yang sesuai dengan jenis rasionya. Rasio-rasio ini ada yang memiliki antara laporan keuangan atau hanya dalam satu laporan keuangan.
Untuk memberikan contoh aplikasi rasio di atas, berikut ini diberikan contoh Neraca dan Laporan Laba Rugi PT ROY AKASE. Tbk.
PT ROY AKASE, Tbk.
NERACA
Per 31 Desember 2007 dan 2008
(dalam jutaan)

Periode
Pos-pos dalam Neraca Tahun 2007 Tahun 2008
Aktiva Lancar
Kas 1.150 1.000
Giro 125 160
Surat-surat Berharga 240 190
Piutang 1.350 1.250
Sediaan 1.135 1.500
Total Aktiva Lancar 4.000 4.100
Aktiva Tetap
Tanah 1.000 2.000
Mesin 1.500 2.500
Kendaraan 1.500 1.000
Akumulasi Penyusutan (700) (850)
Total Aktiva Tetap 3.300 4.650
Aktiva lainnya
Total Aktiva Lainnya 1.700 2.250
Total Aktiva 9.000 11.000

Utang Lancar
Utang Bank 400 250
Utang Dagang 2.150 2.200
Utang wesel 100 20
Utang lainnya 50 100
Total Utang Lancar 2.700 2.600
Utang Jangka Panjang
Utang Bank 3 tahun 3.750 3.000
Utang Obligasi 2.000 1.400
Utang Hipotek 250 1.100
Ttl. Utang Jangka Panjang 4.000 3.400
Ekuitas
Modal Setor 2.000 3.500
Cadangan Laba 300 1.500
Total Ekuitas 2.300 5.000
Total Pasiva 9.000 11.000

PT ROY AKASE, Tbk.
Laporan Laba Rugi
Per 31 Desember 2007 dan 2008
(dalam ribuan)

Komponen Laporan Laba Rugi Tahun 2007 Tahun 2008
Total Penjualan 8.500 10.400
Harga Pokok Penjualan 5.250 6.000
Laba Kotor 3.250 4.400

Biaya Operasi
Biaya Umum & Administrasi 500 500
Biaya Penjualan 1.000 1.100
Biaya Lainnya 100 100
Total Biaya Operasi 1.600 1.700
Laba Kotor Operasi 1.650 2.700

Penyusutan 700 850

Pendapatan Bersih Operasi 950 1.850
Pendapatan Lainnya 1.650 1.750
EBIT 2.600 3.600

Biaya Bunga
Bunga Bank 500 400
Bunga Obligasi 200 100
Total Biaya Bunga 700 500

EBT 1.900 3.100
Pajak 20% 380 620
EAIT 1.520 2.480

a. Rasio Likuiditas
 Rasio Lancar (Current Ratio)
Rasio Lancar = Aktifa Lancar
Utang Lancar
Contoh:
Komponen Laporan Keuangan 2007 2008
Total Aktiva Lancar 4.000 4.100
Total Utang Lancar 2.700 2.600

Untuk tahun 2007:
Current Ratio (R) = Rp 4.000 / Rp 2.700 = 1,48 kali (dibulatkan 1,5 kali)
Artinya, jumlah aktiva lancar sebanyak 1,5 kali utang lancar, atau setiap 1 rupiah utang lancar dijamin oleh 1,5 rupiah harta lancar atau 1,5 : 1 antara aktiva lancar dengan utang lancar.
Untuk tahun 2008:
Current Ratio (R) = Rp 4.100 / Rp 2.600 = 1,57 kali (dibulatkan 1,6 kali)
Artinya, jumlah aktiva lancar sebanyak 1,6 kali utang lancar, atau setiap 1 rupiah utang lancar dijamin oleh 1,6 rupiah harta lancar atau 1,6 : 1 antara aktiva lancar dengan utang lancar.
Jika rata-rata industri untuk current rasio adalah 2 kali, maka keadaan perusahaan untuk tahun 2007, dalam kondisi kurang baik mengingat rasionya di bawah rata-rata industri. Namun untuk tahun 2008 sekalipun kondisinya kurang baik dari perusahaan lain, namun ada peningkatan jika dibandingkan dengan rasio tahun 2007.
b. Rasio Solvabilitas (Leverage Ratio)
 Debt to Assets Ratio (Debt Ratio)
Rumusan untuk mencari debt ratio dapat digunakan sebagai berikut:
Debt to Assets Ratio (Debt Ratio) = Total Debt
Total Assets
Contoh:
Komponen Laporan keuangan 2007 2008
Total Aktiva 9.000 11.000
Total Utang 6.700 6.000

Untuk tahun 2007:
Debt to Assets Ratio = Rp 6.700 / Rp 9.000 = 0,74%
Rasio ini menunjukkan bahwa 74% pendanaan perusahaan dibiayai dengan utang untuk tahun 2006. Artinya bahwa setiap 100 rupiah pendanaan perusahaan, maka 74 rupiah dibiayai dengan utang dan 26 rupiah disediakan oleh pemegang saham.
Untuk tahun 2008:
Debt to Assets Ratio = Rp 6.000 / Rp 11.000 = 0,54%
Rasio ini menunjukkan bahwa 54% pendanaan perusahaan dibiayai dengan utang untuk tahun 2007. Artinya bahwa setiap 100 rupiah pendanaan perusahaan, maka 54 rupiah dibiayai dengan utang dan 46 rupiah disediakan oleh pemegang saham.
Jika rata-rata industri 35%, maka Debt to Assets Ratio perusahaan diatas rata-rata industri sehingga mempermudah perusahaan untuk memperoleh pinjaman.
c. Rasio Aktivitas
 Perputaran Piutang (Receivable Turnover)
Rumusan untuk mencari Receivable Turnover adalah sebagai berikut:
Receivable Turnover = Penjualan Kredit
Rata-rata Piutang
Atau Receivable Turnover = Penjualan Kredit
Piutang

Contoh:
Komponen Laporan Keuangan 2007 2008
Penjualan 8.500 10.400
Piutang 1.350 1.250
Awal Tahun
Akhir Tahun

Untuk tahun 2007 :
Receivable Turnover = Rp 8.500 / Rp 1.350 = 6,29 kali (dibulatkan 6,3 kali)
Untuk tahun 2008 :
Receivable Turnover = Rp 10.400 / Rp 1.250 = 8,32 kali (dibulatkan 8,4 kali). Artinya, perputaran piutang untuk tahun 2007 adalah 6,3 kali dibandingkan penjualan dan perputaran piutang untuk tahun 2008 adalah 8,4 kali dibandingkan penjualan.
Jika rata-rata industri untuk perputaran piutang adalah 10 kali, maka untuk tahun 2007 dan 2008 dapat dikatakan penagihan piutang yang dilakukan manajemen dapat dianggap tidak berhasil, karena dibawah rata-rata industri. Namun untuk tahun 2008 ada peningkatan dibandingkan dengan tahun 2007.
d. Rasio Profitabilitas
 Profit Margin on Sales
Rumus untuk mencari Profit Margin dapat digunakan dengan dua cara, yaitu:
1) Untuk margin laba kotor dengan rumus:
Profit Margin = Penjualan Bersih – Harga Pokok Penjualan
Sales
Margin laba kotor menunjukkan laba yang relatif terhadap perusahaan, dengan cara penjualan bersih dikurangi harga pokok penjualan. Rasio ini merupakan cara untuk penetapan harga pokok penjualan

Contoh:
Komponen Laporan Keuangan 2007 2008
Penjualan (sales) 8.500 10.400
Harga pokok penjualan 5.250 6.000
Untuk tahun 2007 :
Profit Margin = Rp 8.500 – Rp 5.250 = 0,38 (38%)
Rp 8.500
Untuk tahun 2008 :
Profit Margin = Rp 10.400 – Rp 6.000 = 0,73 (73%)
Rp 6.000
Jika rata-rata industri untuk profit margin adalah 30%, berarti margin laba perusahaan tahun 2007 dan tahun 2008 baik, karena berbeda di atas rata-rata industri.
2) Untuk margin laba bersih dengan rumus:
Net Profit Margin = Earning After Intrset and Tax (EAIT)
Sales
Margin laba bersih merupakan ukuran keuntungan dengan membandingkan antara laba setelah bunga dan pajak dibandingkan dengan penjualan. Rasio ini menunjukkan pendapatan bersih perusahaan atas penjualan.
Contoh:
Komponen Laporan Keuangan 2007 2008
Penjualan (sales) 8.500 10.400
Earning After Intrset and Tax (EAIT) 5.250 6.000

Untuk tahun 2007 :
Net Profit Margin = Rp 1.520 = 0,17 (17%)
Rp 8.500
Untuk tahun 2008 :
Profit Margin = Rp 2.480 = 0,23 (23%)
Rp 10.400
Jika rata-rata industri untuk net profit margin adalah 20%, berarti margin laba perusahaan tahun 2007 sebesar 17% kurang baik, karena berada dibawah rata-rata industri. Namun, untuk tahun 2008 dengan margin laba sebesar 23% baik, karena masih diatas rata-rata industri.

BAB III
KESIMPULAN

Rasio keuangan adalah angka yang menunjukkan perbandingan antara nilai keuangan yang lain untuk perusahaan yang sama.
Dalam praktiknya, analisis rasio keuangan suatu perusahaan dapat digolongkan menjadi:
1. Rasio neraca, yaitu membandingkan angka-angka yang hanya bersumber dari neraca.
2. Rasio laporan laba rugi, yaitu membandingkan angka-angka yang hanya bersumber dari laporan laba rugi.
3. Rasio antar laporan, yaitu membandingkan angka-angka dari dua sumber (data campuran) baik yang ada di neraca maupun dan di laporan laba rugi.
Jenis-jenis Rasio Keuangan
a. Rasio Likuiditas
b. Rasio Solvabilitas
c. Rasio Aktivitas
d. Rasio Profitabilitas
e. Rasio Pertumbuhan
f. Rasio Penilaian

DAFTAR PUSTAKA

Kasmir. 2010. Pengantar Manajemen Keuangan. Kencana Prenada Media Group, Jakarta.
Reksoprajitno, Soedijono. 1993. Pengantar Manajemen Bank Umum.Gunadarma, Jakarta.

Manajemen Investasi dan Resiko (Investasi)

BAB I
PENDAHULUAN

Investasi, dalam arti luas, berarti mengorbankan dolar sekarang untuk dolar pada masa depan. Ada dua hal berbeda yang melekat, yaitu risiko dan waktu. Pengorbanan terjadi saat sekarang ini dan memiliki kepastian. Hasil baru akan diperoleh kemudian dan besarnya tidak pasti. Pada beberapa kasus, unsur waktu merupakan faktor yang mendominasi (misalnya pada obligasi pemerintah). Pada kasus lain, risiko menjadi hal yang dominan (misalnya options call pada saham biasa). Namun keduanya bisa menjadi faktor yang penting (misalnya jumlah saham di saham biasa).
Perbedaan sering dilakukan antara investasi dan tabungan. Tabungan didefinisikan sebagai konsumsi tertunda. Sedangkan investasi terbatas pada investasi nyata yang pada masa depan akan meningkatkan pendapatan nasional.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Investasi
Istilah investasi berasal dari bahasa Latin, yaitu investire (memakai), sedangkan dalam bahasa Inggris disebut dengan invesment. Istilah hukum investasi berasal dari terjemahan bahasa Inggris yaitu invesment of law. Dalam peraturan perundang-undangan tidak ditemukan hukum investasi tersebut, maka harus dicari dari berbagai pandangan para ahli dan kamus hukum.
Para ahli dalam bidang investasi memiliki pandangan yang berbeda mengenai konsep teoritis tentang investasi. Fitzgeral, mengartikan investasi adalah aktivitas yang berkaitan dengan usaha penarikan sumber-sember (dana) yang dipakai untuk mengadakan barang modal pada saat sekarang, dan dengan barang modal akan dihasilkan aliran-aliran produk baru dimasa yang akan datang. Dalam definisi lain, Kamaruddin Ahmad mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan investasi adalah menempatkan uang atau dana dengan harapan untuk memperoleh tambahan atau keuntungan tertentu atas uang atau dana tersebut.
Ensiklopedia Indonesia memberikan pengertian tentang investasi adalah penanaman uang atau modal dalam proses produksi (dengan pembelian gedung-gedung, permesinan, bahan cadangan, penyelenggaraan uang kas serta perkembangannya). Dari ketiga definisi tersebut, Salim dan Budi Sutrisno menyempurnakan definisi tentang investasi sebagai berikut: “investasi adalah penanaman modal yang dilakukan oleh investor, baik investor luar negri (asing) maupun dalam negeri (domestik) dalam berbagai bidang usaha yang terbuka untuk investasi, dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan”.

B. Tujuan dan Jenis Investasi
a. Tujuan investasi
Kamaruddin Ahmad, mengemukakan tiga alasan sehingga banyak orang melakukan investasi, yaitu:
1. Untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak dimasa yang akan datang.
2. Mengurangi tekanan inflasi.
3. Dorongan untuk menghemat pajak.
Disamping hal tersebut, orang melakukan investasi karena dipicu oleh kebutuhan akan masa depan. Selain kebutuhan akan masa depan, orang melakukan investasi karena dipicu oleh banyaknya ketidakpastian atau hal-hal lain yang tidak terduga dalam hidup ini, misalnya keterbatasan dana, kondisi kesehatan, datangnya musibah secara tiba-tiba, dan kondisi pasar investasi.
Agar tujuan investasi tersebut dapat tercapai maka diperlukan proses dalam mengambil suatu keputusan ketika hendak melakukan investasi, terutama keuntungan yang akan diperoleh dan risiko yang dihadapinya. Dalam kaitan ini, sharpe sebagaimana yang dikutip oleh Nurul Huda dan Mustafa Edwin Naution mengemukakan bahwa pada dasarnya ada beberapa tahapan dalam mengambil keputusan investasi, antara lain:
1. Menentukan kebijakan investasi.
Pada tahapan ini, investor menentukan tujuan investasi dan beberapa kekayaan yang dapat diinvestasikan.
2. Analisis sekuritas.
Pada tahap ini investor harus melakukan analisis sekuritas yang meliputi penilaian terhadap sekuritas secara individual atau atas beberapa kelompok sekuritas.
3. Pembentukan portofolio.
Pada tahap ini investor membentuk portofolio yang melibatkan identifikasi aset khusus mana yang akan diinvestasikan dan juga menentukan seberapa besar investasi pada tiap aset tersebut.
4. Melakukan revisi portofolio.
Pada tahap ini, berkenaan dengan pengulangan secara periodik dari tiga tahap sebelumnya. Sejalan dengan waktu, investor mungkin mengubah tujuan investasinya, yaitu berussaha membentuk portofolio baru yang lebih optimal.
5. Evaluasi kinerja portofolio.
Pada tahap terakhir ini, investor melakukan penilaian terhadap kinerja portofolio secara periodik dalam arti tidak hanya return yang diperhatikan, tetapi juga resiko yang dihadapi.

b. Jenis investasi
Pada dasarnya investasi dapat digolongkan ke dalam beberapa jenis, yakni berdasarkan aset, pengaruh, ekonomi, menurut sumbernya. Dalam kaitan ini, Salim dan Budi Sutrisno menjelaskan sebagai berikut:
1. Investasi berdasarkan asetnya
Investasi ini merupakan penggolongan investasi dari aspek modal atau kekayaanya. Investasi ini dibagi kepada dua jenis, yaitu: (1) real assets yang merupakan investasi yang berwujud, seperti gedung-gedung, kendaraan, dan sebagainya; (2) financial assets, yaitu yang berupa dokumen (surat-surat berharga) yang diperdagangkan dipasar uang , seperti deposito, commercial paper, surt berharga pasar uang (SBPU), dan sebagainya. Financial assets juga diperdagangkan di pasar modal, seperti saham, obligasi, warrant, opsi, dan sebagainya.
2. Investasi berdasarkan pengaruh.
Investasi berdasarkan pengaruh dibagi nenjadi dua macam, yaitu: (1) investtasi autonomus (berdiri sendiri), yaitu investasi yang tidak dipengaruhi tingkat pendapatan, bersifat spekulatif, misalnya pembelian surat-surat berharga; (2) investasi induced (memengaruhi-menyebabkan), yakni investasi yang dipengaruhi oleh kenaikan permintaan akan barang dan jasa serta tingkat pendapatan, misalnya penghasilan transitori (penghasilan yang didapat selain dari bekerja), yaitu bunga tabungan dan sebgainya.
3. Investasi berdasarkan sumber pembiayaan.
Investasi ini dibagi kepada dua macam: (1) investasi yang bersumber dana dari dalam negeri (PMDN), investornya dari dalam negeri; (2) investasi yang bersumber dari modal asing, pembiayaan investasi bersumber dari investor asing.
4. Investasi berdasarkan bentuk
Investasi modal ini dibagi kepada dua bentuk, yaitu: (1) investasi langsung dilaksanakan oleh pemiliknya sendiri, seperti membangun pabrik, membangun gedung selaku kontraktor, membeli total, atau mengakuisisi perusahaan; dan (2) investasi tidak langsung yang sering disebut dengan investasi portofolio. Investasi tidak langsungdilakukan melalui pasar modal dengan instrumen surat-surat berharga, seperti saham, obligasi, reksadana beserta turunannya.

C. Asas-asas Hukum Investasi
Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 Pasal 3 Ayat (1) menentukan 10 asas dalam melaksanakan penanaman modal atau investasi, sebagai berikut:
a. Asas kepastian hukum
b. Asas keterbukaan
c. Asas akuntabilitas
d. Asas perlakuan yang sama dan tidak membeda-bedakan asal negara
e. Asas kebersamaan
f. Asas efisiensi berkeadilan
g. Asas keberlanjutan
h. Asas berwawasan lingkungan
i. Asas kemandirian
j. Asas keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional
Disamping 10 asas sebagaimana tersebut diatas, Salim dan Budi Sutrisno menambah beberapa asas lagi antara lain:
a. Asas ekonomi perusahaan
b. Asas hukum internasional
c. Asas demokrasi ekonomi
d. Asas manfaat
e. Asaqs nondiskriminasi

D. Risiko Investasi
Ada dua unsur yang selalu melekat pada setiap investasi, yaitu hasil (return) dan risiko (risk). Menurut Panji Anoraga dan Piji Pakarti, dalam melaksanakan investasi, seorang investor diharapkan memahami adanya beberapa risiko, sebagai berikut: (1) risiko finansial, yaitu risiko yang diterima investor akibat dari ketidakmampuan emiten (saham/obligasi) memenuhi kewajiban pembayaran dividen (bunga) serta pokok investasi; (2) risiko pasar, yaitu akibat menurunnya harga pasar substansial baik keeseluruhan saham maupun saham tertentu akibat tingkat inflasi ekonomi, keuangan negara, perubahan manajemen perusahaan, atau kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi; dan (3) risiko psikologis, yiatu risiko bagi investor yang bertindak secara emosional dalam menghadapi perubahan harga saham berdasarkan optimisme dan pesimisme yang dapat mengakibatkan kenaikan dan penurunan harga saham.
Timbulnya resiko investasi bersumber dari beberapa faktor. Menurut Kamaruddin Ahmad, faktor-faktor risiko ini dapat terjadi bersamaan atau hanya muncul dari salah satu saja. Risiko tersebut antara lain: (1) risiko tingkat bunga, terutama jika terjadi kenaikan; (2) risiko daya beli, disebabkan inflasi; (3) risiko bear dan bull, tren pasar turun atau naik; (4) risiko manajemen, kesalahan/kekeliruan dalam pengelolaan; (5) risiko kegagalan, keuangan perusahaan kearah kepailitan; (6) risiko likuiditas, kesulitan pencairan/pelepasan aktiva; (7) risiko penarikan, kemungkinan pembelian kembali aset/surat berharga oleh emiten; (8) risiko konversi, keharusan penukaran atau aktiva; (9) risiko politik, baik internasional maupun nasional; (10) risiko industri, munculnya saingan produk homogen.

E. Penghitungan return pada Investasi
Return = kekayaan di akhir periode – kekayaan di awal periode
kekayaan di awal periode
Dalam menghitung return dari sekuritas, diasumsikan bahwa investor membeli satu unit (contohnya satu lembar saham atau obligasi) diawal periode. Nilai pembelian dimasukkan sebagai penyebut pada Persamaan tersebut. Lalu nilai pembilang adalah jawaban dari pertanyaan sederhana –berapa besar laba (atau rugi) seorang investor pada akhir periode?
Misalnya, anggaplah bahwa saham biasa milik Widget Corp dijual $40 pada awal tahun dan $45 pada akhir tahun dan membayar dividen $3 per saham. Return dari Widget dalam tahun tersebut dihitung sebagai berikut:
[($45 + $3) – $40] / $40 = 0,20 atau 20%

F. Prinsip-prinsip Investasi Syariah
a) Prinsip Halal
b) Prinsip Mashlahah
c) Prinsip Terhindar dari Investasi yang Terlarang
• Investasi yang Syubhat
• Investasi yang Haram
d) Haram karena Tadlis
e) Haram karena Gharar
f) Haram karena Maysir
g) Haram karena Riba
h) Terhindar dari Ihtikaar dan an-Najasy

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Menurut Salim dan Budi, definisi tentang investasi sebagai berikut: “investasi adalah penanaman modal yang dilakukan oleh investor, baik investor luar negri (asing) maupun dalam negeri (domestik) dalam berbagai bidang usaha yang terbuka untuk investasi, dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan”.
 Tujuan investasi
Kamaruddin Ahmad, mengemukakan tiga alasan sehingga banyak orang melakukan investasi, yaitu:
• Untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak dimasa yang akan datang.
• Mengurangi tekanan inflasi.
• Dorongan untuk menghemat pajak.
 Jenis investasi
 Investasi berdasarkan asetnya
 Investasi berdasarkan pengaruh.
 Investasi berdasarkan sumber pembiayaan.
 Investasi berdasarkan bentuk

DAFTAR PUSTAKA

 Manan, Abdul. 2009. Aspek Hukum dalam Penyelenggaraan Investasi di Pasar Modal Syariah Indonesia. Jakarta: Kencana
 Sharpe, William F dkk. 1997. Investasi. Jakarta: Prenhallindo

Bahasa Indonesia (Transliterasi)

BAB I
PENDAHULUAN

Dalam karya tulis bidang keagamaan (baca: Islam), alih aksara, atau yang lebih dikenal dengan istilah transliterasi, tampaknya merupakan sesuatu yang tak terhindarkan. Oleh karenanya, untuk menjaga konsistensi, aturan yang berkaitan dengan alih aksara ini penting diberikan.
Pengetahuan tentang ketentuan alih aksara ini seyogyanya diketahui dan dipahami, tidak saja oleh mahasiswa yang akan menulis karya tulis, melainkan juga oleh dosen, khususnya dosen pembimbing dan dosen penguji, agar terjadi saling kontrol dalam penerapan dan konsistensinya.
Dalam dunia akademis, terdapat beberapa versi pedoman alih aksara, antara lain versi Turabian, Library of Congress, Pedoman dari Kementrian Agama dan Diknas RI, serta versi Paramadina. Umumnya, kecuali versi Paramadina, pedoman alih aksara tersebut meniscayakan digunakannya jenis huruf (font) tertentu, seperti font TranslitLS, Transliterasi, atau Times New Roman Special.
Untuk memudahkan penerapan alih aksara bagi mahasiswa, pedoman alih aksara ini disusun dengan tidak mengikuti ketentuan salah satu versi di atas, melainkan dengan mengkombinasikan dan memodifikasi beberapa ciri hurufnya. Kendati demikian, alih aksara versi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini tetap disusun dengan logika yang sama, sehingga pada saat dibutuhkan nanti, mahasiswa dengan mudah juga dapat menerapkan versi alih aksara lainnya.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Transliterasi
Transliterasi adalah penyalinan dengan penggantian huruf dari abjad yang satu ke abjad yang lain, guna mengetahui sastra Melayu Klasik lebih mendalam dan berasal dari tulisan Arab Melayu ke dalam tulisan Latin.
Kata Transliterasi berasal dari bahasa Inggris transliteration (trans ‘alih, pindah, ganti dan literation ‘liter, huruf’), yaitu penggantian huruf demi huruf dari satu abjad ke abjad lainnya. Terdapat manfaat transliterasi Arab-Latin, yaitu:
a) Membantu umat islam yang belum memahami huruf Arab.
b) Dalam bidang keagamaan khususnya studi Islam, transliterasi diperlukan karena istilah dan kosakata bidang keislaman sebagian besar memakai kosakata bahasa Arab yang belum diindonesiakan, sementara itu penulisannya disarankan menggunakan huruf latin.
Berikut pedoman transliterasi Arab-Latin yang digunakan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta:
1) Padanan Aksara
No Huruf Arab Huruf Latin Keterangan
1 أ – tidak dilambangkan
2 ب b be
3 ت t te
4 ث ts te dengan es
5 ج j je
6 ح h ha dengan garis bawah
7 خ kh ka dengan ha
8 د d de
9 ذ dz de dengan zet
10 ر r er
11 ز z zet
12 س s es
13 ش sy es dengan ye
14 ص ṣ es dengan garis bawah
15 ض ḏ d dengan garis bawah
16 ط ṯ te dengan garis bawah
17 ظ ẕ ze dengan garis bawah
18 ع ، koma terbalik diatas hadap kanan
19 غ gh ge dengan ha
20 ف f ef
21 ق q ki
22 ك k ka
23 ل l el
24 م m em
25 ن n en
26 و w we
27 ه h ha
28 ى , apostrof
29 ي y ye

2) Vokal
Vokal terdiri dari vokal tunggal (monoftong) dan vokal rangkap (diftong) serta madd.
a) Vokal Tunggal (monoftong)
No Vokal Arab Vokal Latin Keterangan
1 a fathah
2 i kasroh
3 u dammah

b) Vokal Rangkap (diftong)
No Vokal Arab Vokal Latin Keterangan
1 ي ai a dengan i
2 و au a dengan u

c) Madd
No Vokal Arab Vokal Latin Keterangan
1 أيـ â a dengan topi di atas
2 ي î i dengan topi di atas
3 و û u dengan topi di atas

3) Kata Sandang (partikel)
Kata Sandang yang dalam aksara Arab dilambangkan dengan ( أل ) ditransliterasikan menjadi /al-/ baik diikuti oleh huruf syamsiyyah maupun huruf qamariyyah. Misalnya: ألفيل (al-fil)
4) Syaddah (tasydid)
Syahaddah atau Tasydid dilambangkan dengan menggandakan huruf yang diberi tanda syaddah tersebut. Akan tetapi, hal ini tidak berlaku jika huruf yang menerima tanda syaddah itu terletak setelah kata sandang yang diikuti oleh huruf-huruf syamsiyyah. Misalnya: ألدفتر tidak ad-daftar tetapi al-daftar.
5) Ta Marbutah ( ة )
Ta Marbutah diatur dalam tiga kategori:
a. Jika huruf ta marbutah pada kata berdiri sendiri, huruf tersebut ditransliterasikan menjadi /h/. Misalnya: محكمة menjadi mahkamah
b. Jika huruf ta marbutah diikuti oleh kata sifat (na’at), huruf tersebut ditransliterasikan menjadi /h/. Misalnya: ألمدينة ألمنورة menjadi al-Madinah al-Munawwarah
c. Jika huruf ta marbutah diikuti oleh kata benda (ism), huruf tersebut ditransliterasikan menjadi /t/. Misalnya: روضة ألأطفال menjadi rauḏat al-aṯfâl
6) Huruf Kapital
Dalam bahasa Arab tidak dikenal adanya aturan huruf kecil dan kapital. Aturan huruf kapital dalam teransliterasi Arab-Latin mengikuti Pedoman Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), seperti untuk menulis nama diri, bulan dan tahun. Penulisan nama diri yang didahului oleh kata sandang (artikel) al-, bukan kata sandangnya yang menggunakan huruf melainkan huruf awal nama diri tersebut. Seperti al-Ghazali, al-Farabi.
7) Cara Penulisan Kata
Setiap kata, baik kata kerja (fi’l), kata benda (ism), maupun huruf (harf) ditulis terpisah. Misalnya: سكرت ألموت (sakrat al-maut) dan نعوذ باالله (na’ûdz bi Allâh)
8) Pemakaian Transliterasi dalam Kalimat Bahasa Indonesia
Penulisan transliterasi dalam bahasa Arab harus menggunakan huruf miring (italic), hal ini dikarenakan kata bahasa Arab tersebut belum disesuaikan ejaan dan lafalnya dalam bahasa Indonesia.
Beberapa contoh penulisan transliterasi Arab-Latin yang digunakan dalam kalimat bahasa Indonesia:
a. Kata tariqâh berarti “jalan, cara, garis, kedudukan, keyakinan, dan agama.”
b. Tingkat fanâ’ dan baqâ’ dalam tasawuf yang tertinggi adalah jika seorang calon sufi telah mengalami terbukanya hijâb (tabir) sehingga ia dapat menyaksikan dengan mata-batinnya keindahan Tuhan.

BAB III
KESIMPULAN

Kata Transliterasi berasal dari bahasa Inggris transliteration (trans ‘alih, pindah, ganti dan literation ‘liter, huruf’), yaitu penggantian huruf demi huruf dari satu abjad ke abjad lainnya. Terdapat manfaat transliterasi Arab-Latin, yaitu:
a. Membantu umat islam yang belum memahami huruf Arab.
b. Dalam bidang keagamaan khususnya studi Islam, transliterasi diperlukan karena istilah dan kosakata bidang keislaman sebagian besar memakai kosakata bahasa Arab yang belum diindonesiakan, sementara itu penulisannya disarankan menggunakan huruf latin.
Transliterasi Arab-Latin terdapat dalam beberapa tempat, yaitu:
a) Padanan Aksara
b) Vokal
c) Vokal Rangkap
d) Vokal Panjang
e) Kata Sandang
f) Syaddah
g) Ta’ Marbutah
h) Huruf Kapital
i) Cara Penulisan Kata

DAFTAR PUSTAKA

Fitriyah ZA, Mahmudah & Hindun. Bahasa Indonesia BUDAYAKU. Depok: Nufa Citra Mandiri, 2012.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1990.
Tim Penyusun Pedoman Akademik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. PEDOMAN AKADEMIK Program Strata 1 2012/2013.

Apakah perut anda akan meledak jika makan permen Pop Rocks dan minum soda secara bersamaan?

kenalan sama blog barunya doonk 😀

bukanorangbiasa

mau tau jawabannya???

Ohoho.. teranyata tidak,

Baik permen Pop-Rocks dan soda adalah senyawa berrkarbonasi yang artinya mereka mengandung sedikit karbondioksida, berupa gas tak berwarna. Untuk Pop-Rocks pelapisan permen itu membentuk cangkang diseputar kantung kecil gas. Ketika permen larut dalam mulut anda, maka karbondioksida lepas dan  membuat rasa berdesis di lidah anda.

Untuk soda, karbondioksida larut dalam cairan. Ketika anda membuka botol soda,karbondioksida dilepaskan dalam bentuk gelembung kecil yang menggelitikhidung dan mulut ketika anda meminumnya. Ketika soda menjadi “datar” rasanya,maka ia telah kehilangan semua gelembung atau karbondioksida.

Nah ketika anda makan permen Pop-Rocks dan minum soda secara bersamaan, karbondioksida lepas dan anda bisa merasakan desisinya saat anda menelan. Tetapi ini tidak cukup untuk membuat perut atau pipa udara anda meledak. Dan anda tidak akan mati karenanya. Kecuali Allah telah menghendaki ^^

Naihai*

Dikutip dari buku “151 pertanyaan menggelitik seputar tubuh kita hlm.167”

291112.6.42

View original post

Surat Cinta

Motivasi

Surat Cinta Untuk Suamiku

10 PILAR PENGEMBANGAN BANK SYARI’AH

Market share bank syariah di Indonesia saat ini, relatif masih kecil, belum mencapai 2 % dari total asset bank secara nasional. Menurut Siti Fajriyah, salah seorang Deputi Gubernur Bank Indonesia, jumlah nasabah Bank syariah saat ini,  baru sekitar 3 juta orang. Padahal jumlah umat Islam potensial untuk menjadi customer bank syariah lebih dari 100 juta orang. Dengan demikian, mayoritas umat Islam belum berhubungan dengan bank syariah.

 Prospek Bank Syari’ah

 Tidak bisa dibantah, bahwa  perbankan syari’ah  mempunyai potensi  dan prospek yang sangat bagus  untuk dikembangkan di Indonesia . Prospek yang baik ini setidaknya  ditandai oleh empat hal ;

Ø  Pertama, Jumlah penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam merupakan pasar potensial bagi pengembangan bank syari’ah di Indonseia. Sampai saat ini, pangsa pasar yang besar itu belum tergarap secara signifikan. Data terakhir menunjukkan bahwa market share perbankan syari’ah di Indonesia masih sangat kecil, yaitu  1,65 %, belum mencapai 2 %, (lihat tabel). Ini menunjukkan bahwa market share bank syari’ah masih sangat besar

Ø  Kedua, Perkembangan lembaga pendidikan Tinggi yang mengajarkan ekonomi syariah semakin pesat, baik S1, S2, S3 juga D3. Dalam lima tahun ke depan akan lahir sarjana-sarjana ekonomi Islam yang memiliki paradigma, pengetahuan dan wawasan ekonomi syariah yang komprehensif, tidak seperti sekarang, banyak yang masih menolak ekonomi syariah karena belum memiliki pengetahuan yang mendalam tentang ekonomi syariah. 

Ø  Ketiga Bahwa fatwa MUI tentang keharaman bunga bank, bagaimanapun akan tetap  berpengaruh terhadap pertumbuhan perbankan syari’ah. Pasca fatwa MUI tersebut,  terjadi shifting dana masyarakat dari bank konvensional ke bank syari’ah secara signifikan yang meningkat dari bulan-bulan sebelumnya. Menurut data Bank Indonesia, dalam waktu satu bulan pasca fatwa MUI, dana pihak ketiga yang masuk ke perbankan syari’ah hampir Rp 1 trilyun. Fatwa ini semakin mendapat dukungan dari para sarjana ekonomi Islam.

Ø  Keempat, Harapan kita kepada sikap pemerintah cukup besar untuk berpihak pada kebenaran, keadilan dan kemakmuran rakyat. Political will pemerintah untuk mendukung pengembangan perbakan syari’ah di Indonesia tinggal menunggu waktu, lama kelamaan mereka akan sadar juga dan melihat keunggulan bank syariah. Sejumlah PEMDA di daerah telah mendukung dan bergabung membesarkan bank-bank syariah. Bank Indonesia pun diharapkan akan benar-benar mendukung bank yang menguntungkan negara dan menyelamatkan negara dari kehancuran. Bank Indonesia yang selama ini terkesan hanya mengandalkan modal dengkul dalam mengembangkan bank syariah akan berubah dengan mengandalkan modal riil yang lebih besar. Memang banyak peran Bank Indonesia dalam mendorong pertumbuhan bank syariah, khususnya dalam  regulasi. Namun kegiatan sosialisasi dan pencerdasan bangsa masih relatif kecil dilaksanakan dan didukung Bank Indonesia.

Ø   Kelima, Masuknya lembaga-lembaga keuangan internasional ke dalam jasa usaha perbankan syari’ah di Indonesia sesungguhnya merupakan indikator bahwa usaha perbankan syari’ah di Indonesia memang prospektif dan dipercaya oleh para investor luar negeri. Potensi dana Timur Tengah sangat besar. Dana-dana yang selama ini ditempatkan di Amerika dan Eropa, pasca 11 September  WTC,  mulai ditarik oleh investor Arab untuk ditempatkan di Asia. Ketika harga minyak 32 dollar US  perparel, Timur Tengah telah menjadi negara petro dollar, apalagi ketika harganya meningkat menjadi 70 dolar perbarel, tentu dana itu semakin besar. Bila potensi ini berhasil ditarik oleh bank-bank syariah, maka market share bank-bank syariah akan semakin besar. Konon potensi dana Timur Tengah saat ini mencapai 600-700 miliar dolar US.

10 Pilar Pengembangan

 Untuk mengembangkan dan memajukan bank syariah setidaknya ada 10 pilar yang harus diperhatikan.

1.      Peningkatan pelayanan dan profesionalisme

 Di masa depan, ketika bank-bank syari’ah telah dominan dan meluas ke berbagai daerah, isu halal-haram tidak bisa diandalkan lagi. Pendekatan yang lebih menekankan aspek  emosional  harus  dikurangi. Bank-bank syari’ah  harus mengedepankan profesionalisme dan mengutamakan service exellence kepada customer

 Apabila perbankan syari’ah bisa memberikan pelayanan yang prima dan profesional serta memiliki kinerja yang exellence, maka dapat dipastikan umat Islam akan lebih percaya terhadap perbankan syari’ah. Para praktisi bank syari’ah harus dapat meyakinkan ummat Islam bahwa bank syari’ah itu lebih baik. Penelitian di berbagai negara menunjukkan bahwa  faktor pelayanan sangat menentukan pilihan masyarakat dalam memilih bank-bank syariah.

2.      Inovasi Produk

 Perkembangan industri perbankan di dunia dalam beberapa dasawarsa terakhir ini amat mengagumkan. Produk-produk yang dikembangkan di pasar semakin bervariasi dan sesuai dengan kebutuhan konsumen. Semuanya itu dikembangkan dengan dukungan teknologi informasi dan telekomunikasi yang semakin canggih, sehingga mempermudah urusan konsumen dan meningkatkan efisiensi kegiatan usaha para konsumen. Dari hari ke hari produk-produk baru terus bermunculan,  menawarkan daya tarik tersendiri.

 Produk-produk bank syari’ah yang ada sekarang harus dikembangkan variasi dan kombinasinya, sehingga menambah daya tarik bank syari’ah. Hal itu akan meningkatkan dinamisme perbankan syari’ah. Untuk mengembangkan produk-produk yang bervariasi dan menarik, bank syari’ah di Indonesia dapat membangun hubungan kerjasama atau berafiliasi dengan lembaga-lembaga keuangan internasional. Kerjasama itu akan bermanfaat dalam mengembangkan produk-produk bank syari’ah. Keberhasilan sistem perbankan syari’ah di masa depan  akan banyak tergantung kepada kemampuan bank-bank syari’ah menyajikan produk-produk yang menarik, kompetitif, sesuai dengan kebutuhan masyarakat, tetapi tetap  sesuai dengan prinsip-prinsip syari’ah

3.      Sumber Daya Insani

 Bank Syari’ah harus mempersiapkan sumber daya insani (SDI) yang  berkualitas dan handal, karena eksistensi kualitas sumber daya insani sangat menentukan pengembangan perbankan syari’ah di masa mendatang. Kualitas sumber daya insani merupakan tulang punggung dalam suatu organisasi dan sangat berpengaruh pada keberhasilan organisasi. Untuk bisa menggerakkan bisnis islami dengan sukses, diperlukan SDI yang yang menguasai ilmu bisnis dan ilmu-ilmu syari’ah secara baik. Selama ini SDI penggerak bisnis islami berasal dari pendidikan umum yang diberi training singkat mengenai bisnis islami. Seringkali training seperti ini kurang memadai, karena yang perlu diupgrade bukan hanya knowlegde semata, tetapi juga paradigma syari’ah, visi dan missi, serta kepribadian syari’ah.

 Untuk melahirkan SDI yang berkompeten di bidang  bisnis dan hukum syari’ah secara komprehensif dan memadai, serta memiliki integritas tinggi, maka manajemen  bank syari’ah harus siap berinvestasi menyekolahkan dan mentraining para sumber daya insaninya. Integritas  tinggi hanya bisa diperoleh dan dipertahankan  bila dilandasai kejujuran  dan dapat dipercaya, sedangkan kompetensi perlu didukung dengan kecerdasan (fathanah), keterbukaan dan komunikatif (tabligh) .

4.      Perluasan Jaringan Kantor

 Perbankan syariah harus memperluas jaringan kantor  agar dapat menjangkau seluruh masyarakat, sehingga alasan darurat bagi daerah yang belum ada bank syari’ahnya bisa dikurangi. Bank-bank milik pemerintah (BUMN) dapat  melakukan perluasan outlate dengan memanfaatkan kantor-kantor cabangnya yang tersebar di seluruh Indonesia, misalnya Bank BNI dan BRI. Perluasan jaringan bank pemerintah tersebut tidak harus dengan membuka kantor-kantor cabang baru, karena membutuhkan modal besar. Sedangkan bagi bank swasta yang kekurangan modal untuk memperluas pembukaan outlate, harus  inovatif dalam membuat terobosan-terosan baru agar jaringannya menjangkau masyarakat luas sampai ke daerah-daerah. Office channeling merupakan sebuah langkah baru untuk mempercepat pertumbuhan asset bank syariah.

5.      Peraturan yang mendukung

     Sistem perbankan syari’ah merupakan sub-sistem dari sistem keuangan nasional. Oleh karena itu, keberadaan dan kegiatan  perbankan syari’ah tersebut perlu diatur secara tegas dan jelas dalam hukum positif atau perundang-undangan nasional yang berlaku, sebaiknya dalam bentuk Undang-Undang tersendiri. Undang-Undang tersebut tidak saja akan mewujudkan kepastian hukum, tetapi juga akan membuat suasana regulasi lebih kondusif.

     Semua fatwa yang dikeluarkan oleh Dewan Syari’ah Nasional MUI tentang produk dan sistem perbankan syari’ah, harus diterjemahkan ke dalam peraturan Bank Indonesia. Hal ini akan semakin  menunjang kemampuan kompetitif perbankan syari’ah sehingga dapat meningkatkan pangsa pasarnya secara signifikan. Bila ini dilakukan, maka target 5 % pangsa pasar bank syari’ah  yang dicanangkan Bank Indonesia  dalam blue print,  akan terlampuai sebelum tahun 2011.

6.      Syari’ah Compliance

 Praktek operasional perbankan syari’ah harus benar-benar dijalankan berdasarkan prinsip syari’ah. Jawaban-jawaban apologetis yang berlindung di bawah payung Dewan Syari’ah tidak menjamin praktek operasinya benar-benar syari’ah. Dengan semakin meluasnya jaringan perbankan syari’ah, maka Dewan Pengawas Syari’ah, harus  lebih meningkatkan perannya secara aktif. Selama ini sangat banyak Dewan Pengawas Syari’ah tidak berfungsi melakukan pengawasan aspek syari’ahnya. Di masa depan, perlu dibentuk Dewan Pengawas Syari’ah di daerah. Bila  Dewan Pengawas Syari’ah hanya mengandalkan DPS pusat, sangat dikhawatirkan, praktek operasi bank syari’ah tidak terawasi. DPS pusat kini banyak tak mengetahui kalau di daerah-daerah ribuan penyimpangan syariah terjadi. Pengaduan audiens dalam forum-forum seminar kepada penulis juga tak terhitung banyaknya. Selain itu, para praktisi bank syariah, wajib mengikuti pengajian atau training ekonomi syariah secara berkelanjutan. Kini diasumsikan  lebih dari 80 % praktisi bank syariah belum memahami ekonomi syariah dan fiqh muamalah ekonomi. Para petinggi bank-bank syariah tampaknya tidak begitu peduli akan realitas minimnya pengetahuan kesyariahan para kru atau karyawan bank syariah. Memang ada satu atau dua bank yang peduli kepada aspek kepatuhan kepada syariah, namun secara umum, hal ini tidak menjadi perhatian para praktisi bank syariah.

 Selain itu, bank-bank syariah harus menjadi uswah hasanah dalam penerapan GCG (Good Corporate Governance). Bank-bank syariah harus berada di garda terdepan dalam implementasi GCG tersebut. Jangan nodai citra syariah yang suci dengan moral hazard. Penerapan good corporate govarnance di bank syariah, tidak saja meningkatkan kepercayaan publik kepada bank syariah, tetapi juga merupakan bagian dari upaya meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada perbankan nasional.

7.      Edukasi  yang kontiniu.

     Upaya yang paling utama untuk membesarkan bank syariah adalah melaksanakan edukasi masyarakat tentang sistem bank syariah, keunggulannya, prinsip-prinsip yang melandasainya, mekanisme operasional, dsb. Prof.Dr.M.A.Mannan, pakar ekonomi Islam, dalam buku Ekonomi Islam, sejak tahun 1970 telah mengingatkan pentingnya upaya edukasi masyarakat tentang keunggulan sistem syariah dan keburukan dampak sistem ribawi.    Fakta membuktikan, bahwa market share perbankan syariah masih sekitar  1,6 persen, karena itu perlu gerakan edukasi dan pencerdasan secara rasional tentang perbankan syariah, bukan hanya mengandalkan kepatuhan (loyal) pada syariah.

 Masyarakat yang loyal syariah terbatas paling sekitar 10-15 %. Masyarakat harus dididik, bahwa menabung di bank syariah, bukan saja karena berlabel syariah, tetapi lebih dari itu, sistem ini dipastikan akan membawa rahmat dan  keadilan bagi ekonomi masyarakat, negara dan dunia, tentunya juga secara individu  menguntungkan. Umunya masyarakat belum mengerti kaitan bunga bank dengan APBN, kenaikan harga BBM, listril, telephon. Masyarakat juga belum mengerti betapa mengerikannya pengaruh negatif bunga bank saat ini terhadap kebangkrutan ekonomi Indonesia. Ratusan juta rakyat Indonesia menderita dalam kemiskinan dan penderitaan yang memilukan akibat sistem bunga yang masih berlaku di bank-bank konvensional. Banyak masyarakat awam yang tak faham akan realita ini. Ratusan trilun dalam beberaopa tahun terakhir disumbangkan secara salah kaprah untuk bank-bank konvensional agar mereka dapat bertahan dalam bentuk BLBI, bunganya dan SBI.

 Karena informasi keilmuan yang terbatas, masyarakat masih banyak yang menyamakan bank syariah dan bank konvensional secara mikro dan sempit. Tegasnya, Masyarakat (publik) masih banyak yang belum mengerti betapa sistem bunga, membawa dampak yang sangat mengerikan bagi keterpurukan ekonomi dunia dan negara-negara bangsa.

 Jika masyarakat masih menganggap sama bank syariah dengan bank konvensional, itu berarti, masyarakat belum faham tentang ilmu moneter syariah, dan ekonomi makro syariah tentang interest, dampaknya terhadap inflasi, produsti, unemployment, juga belum faham tentang prinsip, filosofi, konsep dan operasional bank syari’ah. Menggunakan pendekatan rasional sempit melalui iklan yang floating (mengambang) hanya menciptakan custumer yang rapuh dan mudah berpindah-pindah. Maka kita perlu menggunakan pendekatan rasional komprehensif, yaitu pendekatan yang menggabungkan antara pendekatan rasional, moral dan spiritual.

 Pendekatan rasional adalah meliputi pelayanan yang memuaskan, tingkat bagi hasil dan margin yang bersaing, kemudahan akses dan fasilitas. Pendekatan rasional juga bermakna ; menggunakan akal sehat dan cerdas dalam  memilih bank syariah.

 Pendekatan moral-etis adalah penjelasan rasional tentang dampak sistem ribawi bagi ekonomi negara, bangsa dan masyarakat secara agregat, dan dampaknya terhadap  ekonomi dunia. Dengan penjelasan itu, maka secara moral, tanpa memandang agama, semua orang akan terpanggil untuk meninggalkan sistem riba.

 Pendekatan spiritual adalah pendekatan emosional keagaaman karena sistem dan label syariah yang melekat pada bank syariah. Pendekatan ini cocok bagi mereka yang taat menjalankan agama, atau masyarakat yang loyal kepada aplikasi syariah, meskipun mereka kurang faham tentang keunggulan bank syariah secara teori dan praktis.  Upaya membangun pasar spiritual yang loyal masih perlu dilakukan, agar sharenya terus meningkat. Semakin gencar sosialisasi membangun pasar spiritual, maka semakin tumbuh dan meningkat asset bank-bank syariah.

 Sasaran edukasi sangat luas meliputi seluruh komponen masyarakat, seperti ulama, pemerintah, akademisi, pengusaha, ormas Islam dan masyarakat secara luas. Upaya ini membutuhkan kerja keras dari para pejuang ekonomi syariah, baik ahli ekonomi Islam maupun praktisi bank syariah.

8.      Sinergi

 Sinergi sesama bank syariah merupakan sebuah keniscayaan yang tak terbantahkan untuk mengembangkan dan mempromosikan bank syariah secara signifikan. Bank-bank syariah tak boleh promosi dan bekerja secara sendiri-sendiri. Kegiatan Indonesia syariah Expo yang baru-baru ini dilaksanakan merupakan bentuk sinergi yang perlu diteruskan. Masih banyak bentuk sinergi lain yang bisa dilakukan, seperti menggelar kegiatan bersama dalam promosi di TV,Radio, menggelar workshop dan training ulama dan dosen ekonomi, penerbitan majalah dan buletn dan sebagainya. Demikian pula dalam produk tabungan dan ATM bersama, bank-bank syariah bisa bersinergi.

 Pepatah ”Bersatu kita teguh, bercerai kita rubuh” perlu dicermati, konsep ukhuwah perlu diimplementasikan. Bank-bank syariah, perlu menghayati filosofi shalat berjamaah. Jika dua muslim shalat sendiri-sendiri, nilainya   menghasilkan masing-masing 1 point. tetapi jika dua orang muslim shalat berjamaah oleh maka akan menghasilkan masing-masing 27. Jadi dalam filosofi matematis shalat jamaah, 1 + 1 bukan sama dengan dua, tetapi  sama dengan  27. Karena itu bank-bank syariah, hendaknya jangan ingin besar sendiri dan menang sendiri. Tujuan besar sendiri sulit dicapai tanpa sinergi sesama bank syariah.

9.      Bagi Hasil yang kompetitif

 Bank-bank syariah harus berjuang keras untuk memberikan bagi hasil yang kompetitif dengan memperhatikan efisiensi dan manajemen resiko yang cermat. Jika tingkat bagi hasil jauh dibawah bunga bank, maka sebagian kecil nasabah rasional-materialis  akan kembali menarik dananya dari bank syari’ah. Namun bagi nasabah yang rasional-moralis, tingkat bunga   tidak berpengaruh baginya untuk pindah ke bank konvensional. Apalagi nasabah spiritual, betapapun tingginya tingkat bunga, mereka tetap loyal menempatkan dananya di bank syariah.

10.  Reorientasi ke Sektor Riil

 Perhatian perbankan syari’ah kepada pengembangan sektor riIl harus lebih diutamakan, mengingat realita  pertumbuhan lembaga keuangan syari’ah selama ini begitu pesat, tetapi tidak seimbang dengan pengembangan sektor riel. Dalam ekonomi Islam, pengembangan sektor keuangan harus terkait erat dengan sektor riel syari’ah, karena itu, pengembangan perbankan syari’ah harus mendukung gerakan ekonomi Islam di sektor riel, seperti kegiatan produksi dan distribusi yang dilakukan Ahad-net, MQ-Net, hotel Sofyan syari’ah, super market, agribisnis, Usaha Kecil dan Menengah (UKM)  dan gerakan usaha sektor lainnya. Orientasi pengembangan ekonomi Islam melalui sektor keuangan harus diimbangi  dengan pengembangan  sektor riel. Kepincangan dua aspek ini akan menimbulkan bahaya dan malapetaka ekonomi Islam di masa depan dan hal ini merupakan kegagalan dan kehancuran ekonomi Islam.

 Pengembangan sektor riel syari’ah harus menjadi perhatian yang serius bagi perbankan syari’ah. Pembiayaan melalui produk murabahah, sesungguhnya tidak signifikan mengembangkan sektor riel, karena bentuknya dominan konsumtif.

Penutup

Apabila bank-bank syariah memperhatikan dan menerapkan 10 pilar tersebut, maka perbankan syari’ah akan menjadi perbankan nasional yang tangguh, terpercaya, di samping besar assetnya (market share) nya. Sebagai kesimpulan, bank-bank syariah perlu melakukan konsolidasi baik dari sisi internal maupun eksternal  bank.  Konsolidasi internal dilakukan dengan cara secara istiqamah menerapkan prinsip kehati-hatian, kepatuhan terhadap prinsip syari’ah, penguatan internal control dan meningkatkan  kualitas pelayanan kepada nasabah. Sedangkan konsolidasi eksternal  berupa peningkatan kerjasama  dan konsolidasi dengan institusi terkait dan peningkatan kualitas pelaksanaan good corporate govarnance sebagai bagian dari upaya meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada perbankan nasional.

sumber :

http://www.ekonomisyariah.net/index.php?page=Pustaka:DetailPage&id=69&pp=IndexPage

http://ib.eramuslim.com/2010/08/19/10-pilar-pengembangan-bank-syari’ah/

 

Tasawuf sunni dan Falsafi

Tasawwuf Sunni

A.    Pengertian Tasawuf Sunni

Tasawwuf Sunni ialah aliran tasaawuf  yang berusaha memadukan aspek hakekat dan syari’at, yang senantiasa memelihara sifat kezuhudan dan mengkonsentrasikan pendekatan diri kepada Allah, dengan berusaha sungguh-sugguh berpegang teguh terhadap ajaran al-Qur’an, Sunnah dan Shirah para sahabat.

Dalam kehidupan sehari-hari para pengamal tasawwuf ini berusaha untuk menjauhkan drii dari hal-hal yang bersifat keduniawian, jabatan, dan menjauhi hal-hal yang  dapat mengganggu kekhusua’an ibadahnya.

Latar belakang munculnya ajaran ini tidak telepas dari pecekcokan masalah aqidah yang  melanda para ulama’ fiqh dan tasawwuf lebih-lebih pada abad  kelima hijriah aliran Syi’ah Al-Islamiyah yang berusaha untuk memngembalikan kepemimpinan kepada keturunan Ali bin Abi Thalib. Dimana syi’ah lebih banyak mempengaruhi para sufi dengan doktrin bahwa Imam yang ghaib akan pindah ketangan sufi yang layak menyandang gelar Waliyullah, dipihak lain para sufi banyak yang dipengaruhi oleh filsafat Neo-Platonisme yang memunculkan corak pemikiran Taawwuf Falsafi yang tentunya sangat bertentangan dengan kehidupan para sahabat dan tabi’in. dengan ketegangan inilah munculah sang pemadu syari’at dan hakekat yaitu Imam Ghazali.

B.     Tokoh-tokoh Tasawuf Sunni

Munculnya aliran-aliran tasawuf ini tidak terlepas dari tokoh-tokoh yang berperan di dalamnya. Begitu juga sama halnya dengan Tasawuf sunni. Diantara sufi yang berpengaruh dari aliran-aliran tasawuf sunni dengan antara lain sebagai berikut:

1.         Hasan al-Basri.

Hasan al-Basri adalah seorang sufi angkatan tabi’in, seorang yang sangat taqwa, wara’ dan zahid. Nama lengkapnya adalah Abu Sa’id al-Hasan ibn Abi al-Hasan. Lahir di Madinah pada tahun 21 H tetapi dibesarkan di Wadi al-Qura. Setahun sesudah perang Shiffin dia pindah ke Bashrah dan menetap di sana sampai ia meninggal tahun 110 H. setelah ia menjadi warga Bashrah, ia membuka pengajian disana karena keprihatinannya melihat gaya hidup dan kehidupan masyarakat yang telah terpengaruh oleh duniawi sebagai salah satu ekses dari kemakmuran ekonomi yang dicapai negeri-negeri Islam pada masa itu. Garakan itulah yang menyebabkan Hasan Basri kelak menjadi orang yang sangat berperan dalam pertumbuhan kehidupan sufi di bashrah. Diantara ajarannya yang terpenting adalah zuhud serta khauf dan raja’.

Dasar pendiriannya yang paling utama adalah zuhud terhadap kehidupan duniawi sehingga ia menolak segala kesenangan dan kenikmatan duniawi.

Prinsip kedua Hasan al-Bashri adalah al-khouf dan raja’. Dengan pengertian merasa takut kepada siksa Allah karena berbuat dosa dan sering melalakukan perintahNya. Serta menyadari kekurang sempurnaannya. Oleh karena itu, prinsip ajaran ini adalah mengandung sikap kesiapan untuk melakukan mawas diri atau muhasabah agar selalu memikirkan kehidupan yang akan dating yaitu kehidupan yang hakiki dan abadi.

2.         Rabiah Al-Adawiyah

Nama lengkapnya adalah Rabiah al-adawiyah binti ismail al Adawiyah al Bashoriyah, juga digelari Ummu al-Khair. Ia lahir di Bashrah tahun 95 H, disebut rabi’ah karena ia puteri ke empat dari anak-anak Ismail. Diceritakan, bahwa sejak masa kanak-kanaknya dia telah hafal Al-Quran dan sangat kuat beribadah serta hidup sederhana.

Cinta murni kepada Tuhan adalah puncak ajarannya dalam tasawuf yang pada umumnya dituangkan melalui syair-syair dan kalimat-kalimat puitis. Dari syair-syair berikut ini dapat diungkap apa yang ia maksud dengan al-mahabbah:

Kasihku, hanya Engkau yang kucinta,

Pintu hatiku telah tertutup bagi selain-Mu,

Walau mata jasadku tak mampu melihat Engkau,

Namun mata hatiku memandang-Mu selalu.

Cinta kepada Allah adalah satu-satunya cinta menurutnya sehingga ia tidak bersedia mambagi cintanya untuk yang lainnya. Seperti kata-katanya “Cintaku kepada Allah telah menutup hatiku untuk mencintai selain Dia”. Bahkan sewaktu ia ditanyai tentang cintanya kepad Rasulullah SAW, ia menjawab: “Sebenarnya aku sangat mencintai Rasulullah, namun kecintaanku pada al-Khaliq telah melupakanku untuk mencintai siapa saja selain Dia”. Pernyataan ini dipertegas lagi olehnya lagi mealui syair berikut ini: “Daku tenggelam dalam merenung kekasih jiwa, Sirna segalanya selain Dia, Karena kekasih, sirna rasa benci dan murka”.

Bisa dikatakan, dengan Al-Hubb ia ingin memandang wajah Tuhan yang ia rindu, ingin dibukakan tabir yang memisahkan dirinya dengan Tuhan.

3.         Dzu Al-Nun Al-Misri

Nama lengkapnya adalah Abu al-Faidi Tsauban bin Ibrahim Dzu al-Nun al-Mishri al-Akhimini Qibthy. Ia dilahirkan di Akhmin daerah Mesir. Sedikit sekali yang dapat diketahui tentang silsilah keturunan dan riwayat pendidikannya karena masih banyak orang yang belum mengungkapkan masalah ini. Namun demikian telah disebut-sebut oleh orang banyak sebagai seorang sufi yang tersohor dan tekemuka diantara sufi-sufi lainnya pada abad 3 Hijriah.

4.         Al-Qusyairi

Al-Qusyairi (w. 465 H) adalah salah seorang tokoh sufi utama dari abad kelima Hijriyah. Al-Qusyairi nama lengkapnya adalah ‘Abdul Karim ibn Hawazin, lahir pada tahun 376 H di Istiwa, kawasan Nishapur. Dia berdarah arab dan tumbuh dewasa di Nishapur, salah satu pusat ilmu pengetahuan pada masanya. Disinilah dia bertemu dengan gurunya, Abu ‘Ali al-Daqqaq, seorang sufi terkenal. Dari gurunya itulah Al-Qusyairi menempuh jalan tasawuf. Sang guru ini menyarankannya untuk, pertama-tama. Mempelajari syariat. Karena itulah Al-Qusyairi mempelajari fiqih pada seorang faqih, Abu Bakr Muhammad ibn Abu Bakr al-Thusi (w. 405 H) dan mempelajari ilmu kalam serta ushul fiqh pada Abu Bakr ibn Faurak (w. 406 H). Selain itu, diapun menjadi murid Abu Ishaq al-Isfarayini (w. 418 H) dan menelaah banyak karya-karya al-Baqillani. Dari situlah Al-Qusyairi berhasil menguasai doktrin Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang dikembangkan oleh al-Asy’ari dan para muridnya.

Seandainya karya Al-Qusyairi, ar-Risalah al-Qusyairiyyah dikaji secara mendalam, maka akan tampak jelas bagaimana Al-Qusyairi cenderung mengembalikan tasawuf ke atas landasan doktrin Ahlus Sunnah.

 

 

 

5.         Al-Harawi

Al-Harawi dipandang sebagai pengasas aliran pembaharuan dalam tasawuf dan penentang para sufi yang terkenal dengan keganjilan ungkapan-ungkapannya seperti al-Busthami dan al-Hallaj. Al-Harawi, nama lengkapnya adalah Abu Isma’il ‘Abdullah ibn Muhammad al-Anshari, lahir tahun 396 H di Heart, kawasan Khurasan. Dan dia adalah seorang faqih aliran Hambaliyyah yang terkenal dan karya-karyanya di bidang tasawuf dipandang bernilai. Namun, karena Al-Harawi adalah seorang penganut aliran Hambaliyyah, maka permusuhannya terhadap  aliran Asy’ariyyah terkenal keras.

Karya tasawuf Al-Harawi yang paling terkenal adalah Manazil al-Sa’irin ila Rabb al-‘Alamin. Dalam karyanya yang ringkas tersebut, dia menguraikan tingkatan-tingkatan rohaniah para sufi, di mana tingkatan-tingkatan itu, menurutnya, mempunyai awal serta akhir. Katanya: “Kebanyakan ulama kelompok ini sependapat bahwa tingkatan akhir tidak dipandang benar kecuali dengan benarnya tingkatan awal., seperti halnya bangunan tidak bias tegak kecuali didasarkan pada pondasi. Benarnya tingkatan awal adalah dengan menegakkannya di atas keikhlasan serta keikutan terhadap as-Sunnah.”

6.         Al-Ghazali

Al-Ghazali nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad ibn Ahmad. Karena kedudukan tingginya dalam Islam, dia diberi gelar Hujjatul Islam. Ayahnya, menurut sebagian penulis biografi, bekerja sebagai pemintal wol. Dari itulah, tokoh sufi yang satu ini terkenal dengan al-Ghazzali (yang pemintal wol), sekalipun dia terkenal pula dengan al-Ghazali, sebagaimana diriwayatkan al-Sam’ani dalam karyanya, al-Ansab, yang dinisbatkan pada suatu kawasan yang disebut Ghazalah. Al-Ghazali lahir di Thus, kawasan Khurasan, tahun 450 H (diriwayatkan pula dia lahir pada 451 H). menurut periwayatan al-Subki, dia serta saudaranya menerima pendidikan mistisnya dirumah seorang sufi sahabat ayahnya, setelah ayahnya meninggal dunia.

Di bidang tasawuf, karya-karya Al-Ghazali cukup banyak, yang paling penting adalah Ihya’ ‘Ulum al-Din. Dalam karyanya tersebut, dia menguraikan secara terinci pendapatnya tentang tasawuf, serta menghubungkannya dengan fiqh maupun moral agama. Juga karya-karya lainnya, al-Munqidz min al-Dhalal, dimana ia menguraikan secara menarik kehidupan rohaniahnya, Minhaj al-‘Abidin, Kimia’ al-Sa’adah, Misykat al-Anwar  dan sebagainya.

TASAWWUF FALSAFI

A.    Definisi Tasawwuf Falsafi

Secara garis besar tasawuf falsafi adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dan visi rasional.Tasawuf ini menggunakan terminologi filosofis dalam pengungkapannya, yang berasal dari berbagai macam ajaran filsafat yang telah mempengaruhi para tokohnya.

Di dalam Tasawuf Falsafi metode pendekatannya sangat berbeda dengan tasawuf sunni atau tasawuf salafi. kalau tasawuf sunni dan salafi lebih menonjol kepada segi praktis (العملي ), sedangkan tasawuf falsafi menonjol kepada segi teoritis (النطري ) sehingga dalam konsep-konsep tasawuf falsafi lebih mengedepankan asas rasio dengan pendektan-pendekatan filosofis yang ini sulit diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari khususnya bagi orang awam, bahkan bisa dikatakan mustahil. Kaum sufi falsafi menganggap bahwasanya tiada sesuatupun yang wujud kecuali Allah, sehingga manusia dan alam semesta, semuanya adalahh Allah. Mereka tidak menganggap bahwasanya Allah itu zat yang Esa, yang bersemayam diatas Arsy. Dalam Tasawuf Falsafi, tentang bersatunya Tuhan dengan makhluknya, setidaknya terdapat beberapa istilah yang telah masyhur beserta para tokohnya yaitu ; Hulul, Wahdah Al-Wujud, Insan Kamil, Wujud Mutlak.

1.      Hulul

Hulul merupakan salah satu konsep didalam tasawuf falsafi yangmeyakini terjadinya kesatuan antara kholiq dengan makhluk. Paham hulul ini disusun oleh Al-Hallaj.

Kata hulul berimplikasi kepada bersemayamnya sifat-sifat ke-Tuhanan kedalam diri manusia atau masuk suatu dzat kedalam dzat yang lainnya. Hulul adalah doktrin yang sangat menyimpang. Hulul ini telah disalahartikan oleh manusia yang telah mengaku bersatu dengan Tuhan. Sehangga dikatakan bahwa seorang budak tetaplah seorang budak dan seorang raja tetaplah seorang raja. Tidak ada hubungan yang satu dengan yang lainnya sehingga yang terjadi adalah hanyalah Allah yang mengetahui Allah dan hanya Allah yang dapat melihat Allah dan hanya Allah yang menyembah Allah.

2.      Wahdah Al-Wujud

Istilah Wahdah Al-Wujud sangat dekat dengan pribadi Ibnu Arabi, sehingga ketika menyebut pemikiran Ibnu Arabi seakan-akan terlintas tentang doktrin Wahdah Al-Wujud sebenarnya Wahdatul Wujud bukan penyebutan dari Ibnu Arabi sendiri melainkan sebutan yang dilontarkan  oleh musuh bebuyutannya yaitu Ibnu Taimiyah.

3.      Ittihad                                                                                                                               

Sebagaimana disebutkan dalam sufi terminologi Ittihad adalah penggabungan antara dua hal yang menjadi satu. Ittihad merupakan doktrin yang menyimpang dimana didalamnya terjadi proses pemaksaan antara dua ekssistensi. Kata ini berasal dari kata wahd atau wahdah yang berarti satu atau tunggal. Jadi Ittihad artinya bersatunya manusia dengan Tuhan.                                                                                                               

Tokoh pembawa faham ittihad adalah Abu Yazid Al-Busthami. Menurutnya manusia adalah pancaran Nur Ilahi, oleh karena itu manusia hilang kesadaranya [sebagai manusia] maka pada dasarnya ia telah menemukan asal mula yang sebenarnya, yaitu Nur Ilahi atau dengan kata lain ia menyatu dengan Tuhan.

4.      Insan kamil.

Al-Jilli adalah seorang yang sangat terkenal di Baqhdad, riwayat hidupnya tidak banyak diketahui oleh sejarah tapi yang jelas ajran yang Al-Jilli ini ialah Insan kamil. Insan kamil menurut Al-Jilli ialah manusia.

5.      Ibnu Sab’in

Disamping para sufi ia juga seorang filosof yang sangat terkenal dari Andalusia, ia adalah seorang penggagas paham tasawwuf yang lebih dikenal dengan kesatuan Mutlak.

6.      Al-Suhrawardi Al-Maqtul

Al-Suhrawardi Al-Maqtul dipandang sebagai salah seorang dari generasi pertama para sufi filosof. Nama lengkapnya ialah Abu al-Futuh Yahya ibn Habsy ibn Amrak, bergelar Syihabuddin, dan dikenal juga sebagai sang bijak (al-Hakim). Dia termasuk golongan para sufi abad keenam Hijriyyah; dia dilahirkan di Suhrawad sekitar tahun 550 H dan di bunuh di Halb (Aleppo) atas perintah Shalahuddin al-Ayyubi, tahun 578 H. karena itulah, dia diberi gelar al-Maqtul (yang dibunuh).

Al-Suhrawardi telah meninggalkan sejumlah karya dan risalah, antara lain ialah Hikmah al-Isyraq, al-Talwihat, Hayakil al-Nur, al-Muqawimat dan sebagainya. Namun karyanya yang paling penting serta paling menguraikan alirannya hanyalah Hikmah al-Isyraq, yang berisi pendapat-pendapatnya tentang tasawuf isyraqi (iluminatif). Karya-karya Al-Suhrawardi, pada umumnya, cenderung bercorak simbolis dan begitu samar.

DAFTAR PUSTAKA

·         Al-Ghanimi al-Taftazani, Dr. Abu al-Wafa’. 1997. SUFI DARI ZAMAN KE ZAMAN. Bandung: Penerbit Pustaka.

·         http://rokimgd.wordpress.com/2011/03/30/tasawuf-sunni-vs-falsafi/

 

 

Belajar Efektif

Belajar secara efektif berarti dilakukan setiap saat dan kapan saja. Suasana belajar yang baik haruslah dalam keadaan fun, gembira, bahagia dan senang. Suasana ini penting karena saraf otak yang rileks akan dapat merespon pelajaran dengan baik. Begitu juga dengan kondisi tubuh yang sehat, jiwa yang bersuka-cita, kebutuhan oksigen tubuh maupun suplai makanan bergizi terpenuhi. Agar kesiapan belajar menjadi milik kita, perhatikan beberapa hal berikut:
a. Biasakan berangkat tepat waktu.
Keterlambatan tidak mendukung untuk belajar karena: suasana hati tidak tenang, harus mengisi daftar buku terlambat dan mengisi buku point pelanggaran sekolah ataupun menerima hukuman yang lain. Akibatnya sakit kepala, jengkel, mangkel, dan seterusnya. Setelah diperbolehkan masuk kelas terpaksa harus mendengarkan nasihat-nasihat dari guru yang mengajar, ataupun celoteh dari teman-teman sekelas. Konsentrasi belajarpun terganggu. Anda juga rugi karena tertinggal pelajaran.
b. Tidak membolos.
Membolos merupakan sikap yang tidak terpuji, tidak etik, dan tidak bertata krama. Selain bentuk pelanggaran, siswa yang suka membolos akan backlist. Ada dua kategori membolos, yaitu meninggalkan jam pelajaran dan meninggalkan sekolah. Membolos akan menghancurkan prestasi belajar Anda sendiri!
c. Jadilah siswa yang simpatik.
Siswa yang demikian akan disukai oleh guru dan teman karena tidak pernah melanggar tata tertib sekolah. Siswa ini akan menaruh hormat pada guru, mendengarkan nasehat guru ataupun dari siapa saja, tidak ngerumpi sendiri saat pelajaran, tidak melamun saat diberi tugas, dst. Setiap bertemu guru/teman ia selalu menyapa atau mengucapkan salam lebih dulu. Hormatlah kepada guru di sekolah karena mereka mendidik Anda setiap hari hingga Anda merasa dekat dan sayang padanya. Kedekatan dengan guru akan mendukung Anda untuk mengikuti dan menerima semua materi pelajarannya dengan mudah. Sayangilah juga teman-teman di sekolah. Mereka adalah saudara Anda sendiri. Bantulah mereka jika mereka sedang tertimpa masalah atau kesulitan. Hindari perselisihan atau percekcokan dengan teman. Hindari masalah dengan guru dan teman agar dapat berkonsentrasi dalam belajar. Hindari juga sikap maupun gaya berbicara yang meremehkan, menghina apalagi menyakiti hati teman. Bayangkan bagaimana perasaan Anda kalau kebetulan yang diremehkan, dihina, disakiti dan dipermalukan adalah Anda. Jadikan kehadiran Anda dimanapun tidak merugikan siapapun, tetapi justru sebaliknya kehadiran Anda selalu memberi nilai positif kepada siapapun. Menjadi siswa yang simpatik merupakan asset untuk mencapai prestasi belajar.
d. Proaktif dalam belajar.
Dalam kurikulum KTSP siswa dituntut untuk aktif dalam KBM. Maka konsentrasikan pikiran Anda dan maksimalan energi pikiran Anda dalam belajar.
e. Manfaatkan waktu sebaik mungkin.
Bila ada jam pelajaran yang kosong, gunakan untuk membaca buku di perpustakaan. Ingatlah selalu waktu hanya berjalan sekali dan tidak ada waktu yang berulang. Jika di perpustakaan Anda merasa bosan belajar dengan buku pelajaran, maka pergunakan waktu itu untuk membaca buku ilmu pengetahuan umum saja.
f. Periksa kelengkapan buku Anda.
Lengkapi buku catatan, buku kumpulan soal dan jawaban yang benar dari kelas X sampai jelas XII dengan buku soal dan pembahasan UAN, buku paket, buku soal pembahasan SNMPTN, dll. Bacalah kembali saat suasana hati gembira. Gunakan waktu luang Anda dan waktu santai lainnya untuk membahas soal-soal dan jawaban yang sudah dipastikan benar. Semakin sering Anda membaca, mengingat dan memperdalam soal dan jawaban, Anda akan memiliki kemampuan dalam mengerjakan soal, sehingga saat test anda sudah mempunyai strategi untuk mengerjakan soal dengan waktu cepat, tepat dan benar.
g. Hindari kebiasaan menyontek.
Tindakan ini akan merendahkan motivasi belajar dan prestasi belajar. Biasakan sikap jujur dalam diri Anda. Kembangkan cara terbaik agar prestasi belajar tinggi: buatlah kertas catatan-catatan penting seukuran saku/dompet, jauh hari sebelum ulangan. Dengan ini, dimanapun dan kapanpun Anda dapat bebas belajar dengan santai. Membuat kertas catatan seperti ini akan melatih saraf otak Anda merespon materi pelajaran yang Anda tulis di kertas tersebut. Respon otak akan terus berulang setiap kali Anda membuka dan membacanya. Saat ulangan tiba, Anda akan dengan penuh rasa percaya diri mampu memahami dan menyelesaikan soal-soal yang diberikan. Anda telah mempersiapkan semuanya dengan baik sebelum evaluasi akhir dimulai. Dengan persiapan dan pembiasaan itu, otak Anda akan bekerja secara maksimal tanpa ada keinginan untuk menyontek.
h. Biasakan berdoa setiap akan memulai pelajaran/aktivitas.
Doa merupakan suatu bentuk kekuatan spiritual (berkonsentrasi untuk dapat berkomunikasi kepada Tuhan Yang maha esa). Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa faktor penentu keberhasilan dalam belajar dan faktor penentu keberhasilan dalam tes, salah satunya adalah doa. Dengan kekuatan doa tingkat intelegensi seseorang dapat naik!
i. Usahakan kondisi tubuh Anda dalam kondisi sehat dan segar.
Kondisi tubuh yang sehat sangat menentukan keberhasilan segala aktivitas seseorang. Walau perencanaan yang baik, kemampuan berpikirnya tinggi, dapat terjadi kegagalan karena sakit.

« Older entries