Sejarah Hadis

  • Hadis pada masa Rasulullah tidak dibukukan dan ditulis secara resmi, karena :
  1. Konsentrasi dan perhatian sahabat tercurah pada penulisan Al-Qur’an sehingga dikhawatirkan tercampur.
  2. Kebanyakan mereka awam tulisan dan kuat dalam tradisi menghafal.
  • Mayoritas hadis diriwayatkan secara lisan.
  • Sebagian sahabat menulis sebagian hadis Rasulullah sebagai catatan pribadi seperti Abu Bakar (w.13 H), Abu Ayyub Al-Anshori (w. 52 H), Abu Umamah (w. 81 H), Abu Said al-Khudri (w.74 H), Abu Syah, Abu Musa Al-Asyari (w.42 H), Abu Hurairah (w. 59 H), dll.
  • Metode periwayatan hadis pada Abad I Hijrah adalah:
  1. Periwayatan hadis secara lisan
  2. Membaca catatan hadis.
  3. Tanya jawab.
  4. Imla’/Dikte.
  • Para sahabat dan generasi sesudahnya meriwayatkan hadis pada umumnya mulai menggunakan syahid (saksi) dan isnad.
  • Pada sekitar tahun 98 H atau akahir abad I Hijrah, Khalifah Umar bin Abdul Aziz (w. 202 H) memerintahkan Muhammad bin Syihab al-Zuhri (w. 124 H) untuk membukukan hadis. Dengan demikian, maka az-Zuhri adalah orang yang pertama membukukan hadis (tadwin al-hadis).
  • Muwatha’ karya Imam Malik bin Anas (w. 179 H) adalah kitab hadis yang sampai kepada kita pasca Az-Zuhri.
  • Metode yang digunakan dalam kitab ini mengikuti pembahasan dalam bab-bab dalam ilmu Fiqh.
  • Kitab Muwatha’ tercampur dengan fatwa/atsar sahabat dan tabiin.
  • Disamping Imam Malik, ada pula ulama penulis segenrasi dengan beliau seperti Ibnu Juraij (w. 150 H) dan Sufyan al-Tsauri (w. 161 H), namun karyanya tidak sampai kepada kita.
  • Setelah generasi Imam Malik atau memasuki awal abad III, muncul kitab-kitab hadis dalam bentuk Musnad, yakni kitab hadis yang disusun sesuai dengan nama sahabat, seperti Musnad Ahmad bin Hanbal (w.242 H), Musnad Abu Dawud al-Thayalisi, Musnad al-Humaidy (w. 249 H),  Musnad al-Haris bin al-Haris bin Abi Usamah (w. 282 H).
  • Disamping kitab Musnad, sebagian ulama juga menyusun kitab hadis yang membahas hadis tertentu, seperti Kitab Ta’wil Mukhtalaf al-Hadis karya  Ibn Qutaibah al-Dinawari (w. 270 H).
  • Pada masa ini ditandai dengan beberapa hal:
  1. Perpecahan politik yang makin mengental kepada ideologi aliran dalam Islam, seperti Syiah, Muktazilah, Khawarij, dll.
  2. Maraknya pemalsuan hadis oleh para kaum zindiq, juru kisah, fanatis mazhab, dll.
  3. Perseteruan ahli hadis dan ahli kalam.

 

Masa Seleksi dan Keemasan Pembukuan Hadis

  • Munculnya dua kitab Sahih yang dipandang paling otoritatif yang menghimpun hadis-hadis yang sahih, yakni kitab Sahih Bukhari (w. 256 H) dan Sahih Muslim (w. 261).
  • Disusul oleh empat kitab Sunan, yakni kitab hadis yang disusn berdasarkan bab Fiqh, namun hanya menghimpun hadis marfu’ saja, yakni Sunan Ibn Majah (w. 273 H), Sunan Abu Dawud al-Sijistani (w. 275 H), Sunan al-Tirmidzi (w. 279 H), dan Sunan al-Nasa’I (w. 304 H).
  • Keenam kitab hadis tersebut kemudian dikenal dengan Kutubus Sittah (Kitab Hadis yang Enam) yang pandang sumber hadis terpercaya meski masing-masing memilki rangking yang berbeda.
  • Semasa “Kitab Enam”, disusn pula kitab hadis yang melengkapi kitab-kitab terdahulu seperti mushannaf, serta sesudahnya kitab sahih tambahan, mustadrak dan mustakhraj.
  • Mushannaf, adalah kitab hadis yang disusun berdasarkan bab-bab fiqh, tapi mencakup atsar shabat dan tabiin, sperti MUshannaf Ibn Abi Syaibah karya Abu bakar Ibn Abi Syaibah (235 H)
  • Mustadrak adalah kitab hadis yang melengkapi hadis-hadis yang ada pada kitab lain sesuai dengan syarat kitab tersebut. Seperti Mustdarak ala Sahihain karya al-Hakim (w. 405 H)
  • Mustakhraj adalah kitab hadis yang meriwayatkan hadis yang ada kitab tertentu dengan sanadnya sendiri kemudian sanadnya bertemu. Seperti Mustakhraj ala Sahihain, karya Muhammmad Bin yaqub, bin Yusuf al-Syaibani al-Naisaburi (w. 344 H).
  • Di samping itu muncul kitab hadis yang disusun berdasarkan huruf mu’jam (alphabetis), seperti 3 kitab Mu’jam karya Sulaiman bin Ahmad al-Thabarani (w. 360).
  • Juga kitab Sunan seperti Sunan al-Daruquthni (w. 385 H), kitab Syarh hadis, sperti Ma’alim al-Sunan karya al-Khatabi (w. 388 H), kitab ajza’, kitab `Ilal.
  • Pada masa kemunduran Islam dengan jatuhnya Bagdad pada tahun 656 H oleh Hulagu Khan dari Mongol, kebanyakan ulama hanya menghimpun kumpulan hadis dari kitab-kitab tertentu. Demikian pula pada masa sesudahnya lebih banyak berupa komentar terhadap kitab terdahulu, seperti, Syarh Sahih Muslim karya Yahya bin Syaraf al-Nawawi (w. 676 H), Ibn Hajar al-Asqalani (w. 856 H).

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: