Manajemen Investasi dan Resiko (Investasi)

BAB I
PENDAHULUAN

Investasi, dalam arti luas, berarti mengorbankan dolar sekarang untuk dolar pada masa depan. Ada dua hal berbeda yang melekat, yaitu risiko dan waktu. Pengorbanan terjadi saat sekarang ini dan memiliki kepastian. Hasil baru akan diperoleh kemudian dan besarnya tidak pasti. Pada beberapa kasus, unsur waktu merupakan faktor yang mendominasi (misalnya pada obligasi pemerintah). Pada kasus lain, risiko menjadi hal yang dominan (misalnya options call pada saham biasa). Namun keduanya bisa menjadi faktor yang penting (misalnya jumlah saham di saham biasa).
Perbedaan sering dilakukan antara investasi dan tabungan. Tabungan didefinisikan sebagai konsumsi tertunda. Sedangkan investasi terbatas pada investasi nyata yang pada masa depan akan meningkatkan pendapatan nasional.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Investasi
Istilah investasi berasal dari bahasa Latin, yaitu investire (memakai), sedangkan dalam bahasa Inggris disebut dengan invesment. Istilah hukum investasi berasal dari terjemahan bahasa Inggris yaitu invesment of law. Dalam peraturan perundang-undangan tidak ditemukan hukum investasi tersebut, maka harus dicari dari berbagai pandangan para ahli dan kamus hukum.
Para ahli dalam bidang investasi memiliki pandangan yang berbeda mengenai konsep teoritis tentang investasi. Fitzgeral, mengartikan investasi adalah aktivitas yang berkaitan dengan usaha penarikan sumber-sember (dana) yang dipakai untuk mengadakan barang modal pada saat sekarang, dan dengan barang modal akan dihasilkan aliran-aliran produk baru dimasa yang akan datang. Dalam definisi lain, Kamaruddin Ahmad mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan investasi adalah menempatkan uang atau dana dengan harapan untuk memperoleh tambahan atau keuntungan tertentu atas uang atau dana tersebut.
Ensiklopedia Indonesia memberikan pengertian tentang investasi adalah penanaman uang atau modal dalam proses produksi (dengan pembelian gedung-gedung, permesinan, bahan cadangan, penyelenggaraan uang kas serta perkembangannya). Dari ketiga definisi tersebut, Salim dan Budi Sutrisno menyempurnakan definisi tentang investasi sebagai berikut: “investasi adalah penanaman modal yang dilakukan oleh investor, baik investor luar negri (asing) maupun dalam negeri (domestik) dalam berbagai bidang usaha yang terbuka untuk investasi, dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan”.

B. Tujuan dan Jenis Investasi
a. Tujuan investasi
Kamaruddin Ahmad, mengemukakan tiga alasan sehingga banyak orang melakukan investasi, yaitu:
1. Untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak dimasa yang akan datang.
2. Mengurangi tekanan inflasi.
3. Dorongan untuk menghemat pajak.
Disamping hal tersebut, orang melakukan investasi karena dipicu oleh kebutuhan akan masa depan. Selain kebutuhan akan masa depan, orang melakukan investasi karena dipicu oleh banyaknya ketidakpastian atau hal-hal lain yang tidak terduga dalam hidup ini, misalnya keterbatasan dana, kondisi kesehatan, datangnya musibah secara tiba-tiba, dan kondisi pasar investasi.
Agar tujuan investasi tersebut dapat tercapai maka diperlukan proses dalam mengambil suatu keputusan ketika hendak melakukan investasi, terutama keuntungan yang akan diperoleh dan risiko yang dihadapinya. Dalam kaitan ini, sharpe sebagaimana yang dikutip oleh Nurul Huda dan Mustafa Edwin Naution mengemukakan bahwa pada dasarnya ada beberapa tahapan dalam mengambil keputusan investasi, antara lain:
1. Menentukan kebijakan investasi.
Pada tahapan ini, investor menentukan tujuan investasi dan beberapa kekayaan yang dapat diinvestasikan.
2. Analisis sekuritas.
Pada tahap ini investor harus melakukan analisis sekuritas yang meliputi penilaian terhadap sekuritas secara individual atau atas beberapa kelompok sekuritas.
3. Pembentukan portofolio.
Pada tahap ini investor membentuk portofolio yang melibatkan identifikasi aset khusus mana yang akan diinvestasikan dan juga menentukan seberapa besar investasi pada tiap aset tersebut.
4. Melakukan revisi portofolio.
Pada tahap ini, berkenaan dengan pengulangan secara periodik dari tiga tahap sebelumnya. Sejalan dengan waktu, investor mungkin mengubah tujuan investasinya, yaitu berussaha membentuk portofolio baru yang lebih optimal.
5. Evaluasi kinerja portofolio.
Pada tahap terakhir ini, investor melakukan penilaian terhadap kinerja portofolio secara periodik dalam arti tidak hanya return yang diperhatikan, tetapi juga resiko yang dihadapi.

b. Jenis investasi
Pada dasarnya investasi dapat digolongkan ke dalam beberapa jenis, yakni berdasarkan aset, pengaruh, ekonomi, menurut sumbernya. Dalam kaitan ini, Salim dan Budi Sutrisno menjelaskan sebagai berikut:
1. Investasi berdasarkan asetnya
Investasi ini merupakan penggolongan investasi dari aspek modal atau kekayaanya. Investasi ini dibagi kepada dua jenis, yaitu: (1) real assets yang merupakan investasi yang berwujud, seperti gedung-gedung, kendaraan, dan sebagainya; (2) financial assets, yaitu yang berupa dokumen (surat-surat berharga) yang diperdagangkan dipasar uang , seperti deposito, commercial paper, surt berharga pasar uang (SBPU), dan sebagainya. Financial assets juga diperdagangkan di pasar modal, seperti saham, obligasi, warrant, opsi, dan sebagainya.
2. Investasi berdasarkan pengaruh.
Investasi berdasarkan pengaruh dibagi nenjadi dua macam, yaitu: (1) investtasi autonomus (berdiri sendiri), yaitu investasi yang tidak dipengaruhi tingkat pendapatan, bersifat spekulatif, misalnya pembelian surat-surat berharga; (2) investasi induced (memengaruhi-menyebabkan), yakni investasi yang dipengaruhi oleh kenaikan permintaan akan barang dan jasa serta tingkat pendapatan, misalnya penghasilan transitori (penghasilan yang didapat selain dari bekerja), yaitu bunga tabungan dan sebgainya.
3. Investasi berdasarkan sumber pembiayaan.
Investasi ini dibagi kepada dua macam: (1) investasi yang bersumber dana dari dalam negeri (PMDN), investornya dari dalam negeri; (2) investasi yang bersumber dari modal asing, pembiayaan investasi bersumber dari investor asing.
4. Investasi berdasarkan bentuk
Investasi modal ini dibagi kepada dua bentuk, yaitu: (1) investasi langsung dilaksanakan oleh pemiliknya sendiri, seperti membangun pabrik, membangun gedung selaku kontraktor, membeli total, atau mengakuisisi perusahaan; dan (2) investasi tidak langsung yang sering disebut dengan investasi portofolio. Investasi tidak langsungdilakukan melalui pasar modal dengan instrumen surat-surat berharga, seperti saham, obligasi, reksadana beserta turunannya.

C. Asas-asas Hukum Investasi
Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 Pasal 3 Ayat (1) menentukan 10 asas dalam melaksanakan penanaman modal atau investasi, sebagai berikut:
a. Asas kepastian hukum
b. Asas keterbukaan
c. Asas akuntabilitas
d. Asas perlakuan yang sama dan tidak membeda-bedakan asal negara
e. Asas kebersamaan
f. Asas efisiensi berkeadilan
g. Asas keberlanjutan
h. Asas berwawasan lingkungan
i. Asas kemandirian
j. Asas keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional
Disamping 10 asas sebagaimana tersebut diatas, Salim dan Budi Sutrisno menambah beberapa asas lagi antara lain:
a. Asas ekonomi perusahaan
b. Asas hukum internasional
c. Asas demokrasi ekonomi
d. Asas manfaat
e. Asaqs nondiskriminasi

D. Risiko Investasi
Ada dua unsur yang selalu melekat pada setiap investasi, yaitu hasil (return) dan risiko (risk). Menurut Panji Anoraga dan Piji Pakarti, dalam melaksanakan investasi, seorang investor diharapkan memahami adanya beberapa risiko, sebagai berikut: (1) risiko finansial, yaitu risiko yang diterima investor akibat dari ketidakmampuan emiten (saham/obligasi) memenuhi kewajiban pembayaran dividen (bunga) serta pokok investasi; (2) risiko pasar, yaitu akibat menurunnya harga pasar substansial baik keeseluruhan saham maupun saham tertentu akibat tingkat inflasi ekonomi, keuangan negara, perubahan manajemen perusahaan, atau kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi; dan (3) risiko psikologis, yiatu risiko bagi investor yang bertindak secara emosional dalam menghadapi perubahan harga saham berdasarkan optimisme dan pesimisme yang dapat mengakibatkan kenaikan dan penurunan harga saham.
Timbulnya resiko investasi bersumber dari beberapa faktor. Menurut Kamaruddin Ahmad, faktor-faktor risiko ini dapat terjadi bersamaan atau hanya muncul dari salah satu saja. Risiko tersebut antara lain: (1) risiko tingkat bunga, terutama jika terjadi kenaikan; (2) risiko daya beli, disebabkan inflasi; (3) risiko bear dan bull, tren pasar turun atau naik; (4) risiko manajemen, kesalahan/kekeliruan dalam pengelolaan; (5) risiko kegagalan, keuangan perusahaan kearah kepailitan; (6) risiko likuiditas, kesulitan pencairan/pelepasan aktiva; (7) risiko penarikan, kemungkinan pembelian kembali aset/surat berharga oleh emiten; (8) risiko konversi, keharusan penukaran atau aktiva; (9) risiko politik, baik internasional maupun nasional; (10) risiko industri, munculnya saingan produk homogen.

E. Penghitungan return pada Investasi
Return = kekayaan di akhir periode – kekayaan di awal periode
kekayaan di awal periode
Dalam menghitung return dari sekuritas, diasumsikan bahwa investor membeli satu unit (contohnya satu lembar saham atau obligasi) diawal periode. Nilai pembelian dimasukkan sebagai penyebut pada Persamaan tersebut. Lalu nilai pembilang adalah jawaban dari pertanyaan sederhana –berapa besar laba (atau rugi) seorang investor pada akhir periode?
Misalnya, anggaplah bahwa saham biasa milik Widget Corp dijual $40 pada awal tahun dan $45 pada akhir tahun dan membayar dividen $3 per saham. Return dari Widget dalam tahun tersebut dihitung sebagai berikut:
[($45 + $3) – $40] / $40 = 0,20 atau 20%

F. Prinsip-prinsip Investasi Syariah
a) Prinsip Halal
b) Prinsip Mashlahah
c) Prinsip Terhindar dari Investasi yang Terlarang
• Investasi yang Syubhat
• Investasi yang Haram
d) Haram karena Tadlis
e) Haram karena Gharar
f) Haram karena Maysir
g) Haram karena Riba
h) Terhindar dari Ihtikaar dan an-Najasy

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Menurut Salim dan Budi, definisi tentang investasi sebagai berikut: “investasi adalah penanaman modal yang dilakukan oleh investor, baik investor luar negri (asing) maupun dalam negeri (domestik) dalam berbagai bidang usaha yang terbuka untuk investasi, dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan”.
 Tujuan investasi
Kamaruddin Ahmad, mengemukakan tiga alasan sehingga banyak orang melakukan investasi, yaitu:
• Untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak dimasa yang akan datang.
• Mengurangi tekanan inflasi.
• Dorongan untuk menghemat pajak.
 Jenis investasi
 Investasi berdasarkan asetnya
 Investasi berdasarkan pengaruh.
 Investasi berdasarkan sumber pembiayaan.
 Investasi berdasarkan bentuk

DAFTAR PUSTAKA

 Manan, Abdul. 2009. Aspek Hukum dalam Penyelenggaraan Investasi di Pasar Modal Syariah Indonesia. Jakarta: Kencana
 Sharpe, William F dkk. 1997. Investasi. Jakarta: Prenhallindo

2 Comments »

  1. Ijin copy, thanks.


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: